Blog Siapa Syiah, mengungkap siapa syiah sebenarnya

Menghalalkan Segala Cara untuk Menjatuhkan Lawan, Meskipun dengan Dusta

syiah tukang dusta, syiah tukang bohong
Al-Kulainiy bilang :
مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي نَصْرٍ عَنْ دَاوُدَ بْنِ سِرْحَانَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) إِذَا رَأَيْتُمْ أَهْلَ الرَّيْبِ وَ الْبِدَعِ مِنْ بَعْدِي فَأَظْهِرُوا الْبَرَاءَةَ مِنْهُمْ وَ أَكْثِرُوا مِنْ سَبِّهِمْ وَ الْقَوْلَ فِيهِمْ وَ الْوَقِيعَةَ وَ بَاهِتُوهُمْ كَيْلَا يَطْمَعُوا فِي الْفَسَادِ فِي الْإِسْلَامِ وَ يَحْذَرَهُمُ النَّاسُ وَ لَا يَتَعَلَّمُوا مِنْ بِدَعِهِمْ يَكْتُبِ اللَّهُ لَكُمْ بِذَلِكَ الْحَسَنَاتِ وَ يَرْفَعْ لَكُمْ بِهِ الدَّرَجَاتِ فِي الْآخِرَةِ .
Muhammad bin Yahyaa, dari Muhammad bin Al-Husain, dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Bashr, dari Daawud bin Sirhaan, dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi : “Apabila engkau melihat orang yang menyimpang (penimbul keraguan) dan ahlul-bida’ setelahku, maka nampakkanlah sikap bara’ah (berlepas diri) dari mereka; dan perbanyaklah cacian, perkataan jelek, dan celaan terhadap mereka. Tuduhlah mereka dengan kebohongan agar mereka tidak lagi tamak dalam menimbulkan kerusakan pada Islam. Peringatkanlah manusia tentangnya, dan jangan pelajari kebid’ahan mereka. Niscaya Allah akan menuliskan bagi kalian atas hal tersebut kebaikan-kebaikan, dan akan Allah angkat kalian dengannya beberapa derajat di akhirat” [Al-Kaafiy, 2/375]. Kata Al-Majlisiy, riwayat itu shahih [Mir’atul-‘Uquul, 11/77].[1]

Riwayat di atas mengandung pengertian bahwa jika ada seseorang yang dianggap menyimpang dari agama (Syi’ah), disukai untuk memperbanyak celaan, makian, dan tuduhan – meski bohong – demi kemaslahatan agama (Syi’ah).

Dalam tataran praktek, amalan ini ditegaskan dan dianjurkan oleh para pembesar Syi’ah.
Al-Khuu’iy – ulama besar Syi’ah – pernah ditanya :
هل يجوز الكذب على المبدع أو مروج الضلال في مقام الاحتجاج عليه إذا كان الكذب يدحض حجته ويبطل دعاويه الباطلة؟
“Apakah diperbolehkan berdusta atas Ahlul-Bid’ah dan penganjur kesesatan saat berhujjah/berdebat dengan mereka, apabila kedustaan itu dapat membantah hujah mereka dan membatalkan dakwah mereka yang baathil ?”.

Al-Khuu’iy menjawab :
إذا توقف رد باطله عليه جاز
“Apabila hal itu dapat menghentikan dan membantah kebathilan mereka, maka diperbolehkan” [Shiraathun-Najaah, 1/447 – sumber : sini].

Bagi Syi’ah, orang yang dianggap paling menyimpang dan sekaligus musuh bagi agama mereka adalah Ahlus-Sunnah. Khususnya lagi, Wahabiy.

Setelah merenung, saya pun menjadi paham kenapa orang Syi’ah selama ini sangat murah mengumbar dusta terhadap Ahlus-Sunnah. Menuduh antek Amerika lah, antek Zionis lah, dan yang semisalnya.[2] Menjadi paham pula kenapa mereka berani merekayasa sandiwara meninggalnya Al-Buuthiy, merekayasa fatwa MUI, berani berdusta saat KTT Non-Blok, dan berdusta terhadap Asy-Syaikh ‘Adnaan ‘Ar’uur [baca : sini].

Benar, orang Ahlus-Sunnah memang ada yang berdusta, bahkan banyak. Hanya saja bedanya, Ahlus-Sunnah berkeyakinan dusta mereka diancam nereka, sedangkan dusta mereka (Syi’ah) akan meninggikan derajat mereka dan berpahala.

Susah diharapkan.......

Wallaahul-musta’aan.

NB : Saya pribadi yakin seyakin-yakinnya bahwa perkataan yang dinisbatkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Abu ‘Abdillah rahimahullah dalam riwayat Syi’ah di atas adalah dusta.

-----------------------------------------------------------------------------------------
[1]      Para peneliti Syi’ah menshahihkan hadits ini dan berhujjah dengannya saat menjawab pertanyaan, seperti misal di : http://www.aqaed.com/faq/1857/.
[2]      Padahal, sejarah sendiri belum pernah mencatat orang Syi’ah berkonfrontasi secara nyata dan terbuka dengan Amerika dan Israel/Yahudi. Saat orang-orang Yahudi menginvasi bumi Syaam/Al-Quds, siapakah yang aktif melawan mereka ?. Jawab : Ahlus-Sunnah. Dimanakah orang-orang Syi’ah kala itu ?. Entahlah. Saat Israel menyerang Libanon karena ulah Hizbullah pimpinan Hasan Nashrullah, dimanakah mereka saat itu ?. bersembunyi di dalam bunker, dan membiarkan penduduk (yang mayoritas Ahlus-Sunnah) dibombardir.
‘Iraan nyata-nyata mempunyai fasilitas nuklir yang ditengarai membahayakan stabilitas Timur Tengah. Kenapa Amerika tidak menyerang mereka, sementara Amerika sangat cekatan menyerang ‘Iraaq (salah satunya) dengan tuduhan sama padahal tak pernah terbukti ?.

Sumber: Ust. Abul Jauzaa
Read More...

KAUM SYIAH, GOLONGAN PEMALSU HADITS TERDEPAN

Kemunculan orang-orang yang berkepentingan duniawi dan dengki terhadap Islam, dan manusia-manusia yang masuk Islam dengan membawa kepentingan untuk merusaknya dari dalam menjadi penyebab tersulutnya fitnah besar di tengah umat Islam yang berujung pada terbunuhnya Khalifah ‘Utsmân Radhiyallahu anhu dan berkobarnya peperangan-peperangan yang memecah kesatuan umat. Selanjutnya, timbullah golongan-golongan (sesat) dalam Islam. Masing-masing golongan berupaya membenarkan pendapat (ideologi)nya dengan memalsukan hadits-hadits atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dari situlah, hadits-hadits palsu berkembang. Tema-temanya pun beragam, di antaranya berisi keutamaan seseorang, madzhab, wilayah tertentu atau sebaliknya menyerang orang-orang maupun kelompok tertentu.

SEBAB PEMALSUAN HADITS
Usaha-usaha pemalsuan hadits atas nama Rasûlullâh n didorong oleh berbagai motivasi dan kepentingan. Di antaranya, bertujuan merusak aqidah Islam, mencari popularitas, fanatisme madzhab, mengais penghidupan seperti yang dilakukan oleh qushshâsh (para tukang cerita).

“Pemalsuan hadits yang terjadi, bukanlah fenomena kebetulan yang muncul tanpa direncanakan. Akan tetapi, merupakan gerakan dengan orientasi tertentu dan perencanaan yang komprehensif. Gerakan ini memiliki bahaya dan dampak buruk besar. Di antara dampak buruknya yang langsung mengenai sekian banyak generasi Islam di banyak negeri, tersebarnya pendapat-pendapat yang aneh, kaedah-kaedah fiqih yang syadz, dan keyakinan menyimpang serta pandangan-pandangan yang lucu. Hal-hal yang menyimpang ini didukung dan dipropagandakan oleh golongan-golongan sesat dan kelompok-kelompok tertentu…Sering kali hadits-hadits palsu ini bertentangan dengan akhlak dan akal yang lurus, dan apalagi dengan Kitabullâh dan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.[1]

KAUM SYIAH, GOLONGAN TERDEPAN YANG MEMALSUKAN HADITS
Salah satu langkah yang ditempuh golongan batil untuk mencari pengikut, yaitu melalui pengadaan hadits-hadits palsu dan menyebarluaskannya di tengah manusia. Pasalnya, mereka tahu benar bahwa kaum Muslimin sangat mencintai sunnah (hadits-hadits) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ingin mengetahui lebih mendalam. Selanjutnya, mereka ini (golongan batil) mereka-reka hadits-hadits (palsu) dan menisbatkannya kepada Rasûlullâh Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika kaum Muslimin mendengarkannya, umat akan memahami itu merupakan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menganggapnya sebagai kebenaran. Padahal sejatinya itu adalah hadits palsu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan atau melakukannya sama sekali. !

Golongan batil ini tidak hanya berdusta atas Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi juga memalsukan riwayat-riwayat dengan mencatut nama-nama Ulama Islam yang menjadi teladan bagi umat agar kebatilan mereka lebih dikenal khalayak.

Kaum Syiah, inilah golongan terdepan yang memalsukan hadits-hadits atas nama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang paling nekat dalam usaha ini. Mereka sudah terbiasa berdusta dan berbohong. Orang yang sudah terbiasa berdusta, tidak akan berpikir panjang saat akan berdusta atas nama Allâh Azza wa Jalla , Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi atas nama manusia biasa. Kedustaan-kedustaan itu sama saja dalam pandangan mereka. Terutama bila tujuan mereka ialah untuk menyesatkan dan mendangkalkan keyakinan orang di luar kaum Syiah. Apapun dipandang boleh, demi mencapai tujuan yang diinginkan. Persoalan moral tidak diperhatikan selama bertujuan mewujudkan langkah yang telah direncanakan. !!? Kaidah yang mereka tempuh ialah ‘tujuan menghalalkan segala cara’. Setiap cara apapun –paling buruk sekalipun- akan dipandang boleh jika merealisasikan tujuan dan mengantarkan mereka menuju target yang diinginkan.

USHUL KAFI, KITAB RUJUKAN TERPENTING KAUM SYIAH, BERISI RIBUAN HADITS PALSU
Cukuplah Anda tahu bahwa kitab terpenting kaum Syiah, yaitu Ushûl Kâfi sebagai bukti kedustaan kaum Syiah. Mereka katakan sendiri bahwa kitab ini memuat ribuan hadits palsu. Seorang Ulama kontemporer kaum Syiah, at-Tijâni ,mengakuinya sendiri dalam buku yang ia tulis dengan judul Fas alû Ahladz Dzkir.[2]

Bila sedemikian banyak hadits palsu dalam satu kitab saja, berapa banyak lagi hadits-hadits yang mereka palsukan di dalam kitab-kitab mereka yang lain? Bagaimana mungkin buku-buku yang berisi kedustaan seperti ini dipercaya?

KEUTAMAAN HADITS ZIARAH KUBUR WALI, BUATAN KAUM SYIAH
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyampaikan bahwa orang terdepan yang memalsukan hadits tentang disyariatkannya safar (bepergian jauh) untuk mengunjungi kubur-kubur wali adalah kaum Syiah. Mereka telah menyebabkan masjid-masjid kosong, dan sebaliknya meramaikan kompleks makam. Mereka tinggalkan rumah-rumah Allâh Azza wa Jalla (masjid-masjid) yang menjadi tempat dzikrullâh, sementara makam-makam wali yang sering kali menjadi tempat praktek perbuatan syirik mereka agung-agungkan. Padahal al-Qur`an dan Hadits memerintahkan untuk mengagungkan masjid-masjid, bukan kuburan[3]

ANDIL KAUM SYIAH DALAM MENCORENG SEJARAH ISLAM
Kaum Syiah berkepentingan untuk menyuguhkan sejarah Islam yang buruk di mata umatnya dan memalsukan hadits. Sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkemuka, Abu Bakar Radhyallahu anhu, ‘Umar Radhiyallahu anhu dan ‘Utsmân Radhiyallahu anhu, mereka bidik dengan berbagai cacian dan cercaan.

Apabila kita menelaah buku-buku sejarah yang berbicara tentang fitnah, ternyata riwayat-riwayat yang membekaskan keraguan-keraguan mendalam itu berpangkal dari empat orang saja: Abu Mikhnaf Lûth bin Yahya, al-Wâqidi, Muhammad bin Sâib al-Kalbi, putranya Hisyâm bin Muhammad bin Sâib al-Kalbi. Empat orang ini merupakan tokoh-tokoh yang berjasa dalam pandangan kaum Syiah. Kitab-kitab kaum Syiah sarat dengan pujian bagi mereka berempat tersebut.

Dengan ini, dapat diketahui bahwa kaum Syiah termasuk golongan paling berbahaya bagi Islam. Wallâhu a’lam

Oleh: Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XV/1433H/2012. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Via: almanhaj.or.id
_______
[1]. Muqoddimah muhaqqiq kitab al-Maudhû’ât karya Ibnul Jauzi
[2]. Hlm. 34
[3]. Iqtidhâ Shirâthal Mustaqîm hlm. 391
Read More...

‘Aisyah adalah Istri Nabi shallallaahu ‘’alaihi wa sallam di Dunia dan di Akhirat

aisyah binti abu bakar, aisyah istri rasulullah
Telah berkata Al-Imaam At-Tirmidziy rahimahullah :
حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ الْمَكِّيِّ عَنْ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ جِبْرِيلَ جَاءَ بِصُورَتِهَا فِي خِرْقَةِ حَرِيرٍ خَضْرَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ زَوْجَتُكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaq, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Alqamah Al-Makkiy, dari Ibnu Abi Husain, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari ‘Aaisyah : “Bahwasannya Jibriil datang kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersama gambar Aisyah dalam secarik kain sutera hijau, lalu berkata : ‘Sesungguhnya ini adalah isterimu di dunia dan akhirat’” [Jaami’ At-Tirmidziy no. 3880, At-Tirmidziy berkata : “Hadits ini hasan ghariib, kami tidak mengetahuinya selain dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Alqamah”]. Hadits ini shahih.[1] 

Ada penguat lain, yaitu :
أخبرنا بن خزيمة حدثنا سعيد بن يحيى الأموي حدثني أبي حدثني أبو العنبس سعيد بن كثير عن أبيه قال حدثنا عائشة ان رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر فاطمة قالت فتكلمت انا فقال أما ترضين ان تكونى زوجتى في الدنيا والآخرة قلت بلى والله قال فأنت زوجتى في الدنيا والآخرة
Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Khuzaimah : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Yahyaa Al-Umawiy : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku Abul-‘Anbas Sa’iid bin Katsiir, dari ayahnya, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aaisyah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan Faathimah. ‘Aaisyah berkata : “Maka, akupun protes kepada beliau”. Beliau kemudian bersabda : “Apakah engkau tidak ridla menjadi istriku di dunia dan di akhirat”. Aku berkata : “Tentu, demi Allah”. Beliau bersabda : “Engkau adalah istriku di dunia dan di akhirat” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 7095]. Hadits ini shahih lighairihi.[2]

‘Ammaar bin Yasiir pun mengakui bahwasannya ‘Aaisyah adalah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat, dan Al-Hasan bin ‘Aliy pun men-taqrir-nya radliyallaahu ‘anhum.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ قَالَ لَمَّا بَعَثَ عَلِيٌّ عَمَّارًا وَالْحَسَنَ إِلَى الْكُوفَةِ لِيَسْتَنْفِرَهُمْ خَطَبَ عَمَّارٌ فَقَالَ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّهَا زَوْجَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنَّ اللَّهَ ابْتَلَاكُمْ لِتَتَّبِعُوهُ أَوْ إِيَّاهَا
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar : Telah menceritakan kepada kami Ghundar : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Hakam : Aku mendengar Abu Waail berkata : Ketika 'Aliy mengutus 'Ammaar dan Al-Hasan ke Kuufah untuk mengerahkan mereka berjihad, 'Ammaar berkhutbah : "Sungguh aku mengetahui bahwa ia (‘Aaisyah) adalah istri beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam di dunia dan akhirat. Akan tetapi sekarang Allah menguji kalian apakah akan mentaati-Nya (yaitu tidak keluar ketaatan dari ‘Aliy dan melawannya) atau mengikutinya ('Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa dalam melawan ‘Aliy)" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3772. Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy no. 7100 & 7101, Ahmad 4/265, Al-Bazzaar dalam Al-Musnad no. 1408-1409, Al-Baihaqiy 8/174, dan yang lainnya].

Lihatlah keadilan ‘Ammaar. Ia tetap mengakui keutamaan ‘Aaisyah sebagai istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat meskipun posisinya saat itu berseberangan dengannya[3]. Ia jauh dari celaan sebagaimana celaan orang-orang Syi’ah. Begitu pula Al-Hasan bin ‘Aliy yang men-taqrir (menyetujui) apa yang dikatakan ‘Ammaar.

Mungkin orang Syi’ah akan berkelit bahwa Al-Hasan tidak ada di hadir di tempat itu dan belum tentu ia men-taqrir apa yang dikatakan ‘Ammaar. Sungguh kerdil logika mereka !. ‘Ammaar dan Al-Hasan adalah dua orang yang diutus secara khusus oleh ‘Aliy bin Abi Thaalib dalam mengatasi pasukan Jamaal. 

Sesampainya di Kuufah, ‘Ammaar berkhutbah di depan khalayak. Tentu saja apa yang dikatakannya itu didengar banyak orang, baik rombongannya maupun orang-orang Kuufah. Tidak terkecuali Al-Hasan bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum. Riwayat berikut adalah pemutusnya :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَصِينٍ حَدَّثَنَا أَبُو مَرْيَمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ الْأَسَدِيُّ قَالَ لَمَّا سَارَ طَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَائِشَةُ إِلَى الْبَصْرَةِ بَعَثَ عَلِيٌّ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ وَحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ فَقَدِمَا عَلَيْنَا الْكُوفَةَ فَصَعِدَا الْمِنْبَرَ فَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَوْقَ الْمِنْبَرِ فِي أَعْلَاهُ وَقَامَ عَمَّارٌ أَسْفَلَ مِنْ الْحَسَنِ فَاجْتَمَعْنَا إِلَيْهِ فَسَمِعْتُ عَمَّارًا يَقُولُ إِنَّ عَائِشَةَ قَدْ سَارَتْ إِلَى الْبَصْرَةِ وَ وَاللَّهِ إِنَّهَا لَزَوْجَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ابْتَلَاكُمْ لِيَعْلَمَ إِيَّاهُ تُطِيعُونَ أَمْ هِيَ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad : Telah menceriakan kepada kami Yahyaa bin Aadam : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin ‘Ayyaasy : Telah menceritakan kepada kami Abu Hushain : Telah menceritakan kepada kami Abu Maryam ‘Abdullah bin Ziyaad Al-Asadiy, ia berkata : Tatkala Thalhah, Az-Zubair, dan 'Aaisyah berangkat ke Bashrah, Aliy mengutus 'Ammaar bin Yaasir dan Hasan bin Aliy mendatangi kami di Kuufah. Lalu keduanya naik minbar. 

Ketika itu Al-Hasan bin ‘Aliy di atas mimbar di tangga paling atas, sedangkan ‘Ammaar berdiri di bawah Al-Hasan. Kami berkumpul di sekelilingnya, dan aku mendengar 'Ammaar berkata : 'Aaisyah sedang berangkat ke Bashrah. Demi Allah, ia adalah isteri Nabi kalian shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akherat. Namun Allah tabaaraka wa ta’ala menguji kalian agar Dia mengetahui, apakah kalian taat kepada-Nya atau kepada Aisyah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7100].

Seandainya Al-Hasan tidak sependapat yang dikatakan ‘Ammaar, tentu ia akan segera menyanggah. Kedudukannya tidaklah lebih rendah daripada ‘Ammaar. Ia putra seorang khalifah. Apalagi situasi saat itu sangat mendukung, dimana ‘Aaisyah merupakan pihak kontra yang hendak dilawan. Seruan mereka berdua (‘Ammaar dan Al-Hasan) adalah seruan untuk membela ‘Aliy bin Abi Thaalib melawan pasukan Jamal (yang padanya terdapat Ummul-Mukminiin ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa). Dalam kaedah pun dikatakan : ta’khiirul-bayaan fil-waqtil-haajah, la yajuuz (mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan adalah tidak diperbolehkan). Apa yang menghalangi Al-Hasan bin ‘Aliy tidak mengingkari perkataan ‘Ammaar bin Yaasir seandainya perkataannya itu salah ? Memuji orang yang telah jelas kefasikannya atau tidak mengkafirkan orang yang sudah jelas kekafirannya adalah perbuatan yang keliru. Takut ? Tidak pernah sekalipun terbersit di hati hal itu terhadap Al-Hasan bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa.

Jika orang Syi’ah mengeluarkan senjata pamungkasnya, yaitu : taqiyyah, I have no comment bout this…

Dan perlu diketahui oleh rekan-rekan sekalian, ‘Ammaar bin Yaasir bahkan mencela orang yang mencela ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhumaa. Perhatikan riwayat berikut :
حدثنا يحيى بن آدم قثنا إسرائيل عن أبي إسحاق عن عريب بن حميد قال رأى عمار يوم الجمل جماعة فقال ما هذا فقالوا رجل يسب عائشة ويقع فيها قال فمشى إليه عمار فقال اسكت مقبوحا منبوحا اتقع في حبيبة رسول الله إنها لزوجته في الجنة
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Aadam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Abu Ishaaq, dari ‘Uraib bin Humaid, ia berkata : ‘Ammaar pada peperangan Jamal pernah melihat sekumpulan orang. Lalu ia berkata : “Apakah ini ?”. Mereka berkata : “Seorang laki-laki yang mencaci dan mencela ‘Aaisyah”. ‘Ammaar pun berjalan menuju orang tersebut dan berkata : “Diamlah engkau dari perkataan yang jelek itu. Apakah engkau mencela seorang yang menjadi kesayangan/kekasih Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam ?. Sesungguhnya ia adalah istri beliau di surga” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 1647].
Riwayat ini shahih li-ghairihi.[4]

Giliran Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa memberi kesaksian :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ ذَكْوَانَ مَوْلَى عَائِشَةَ أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ لِابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى عَائِشَةَ وَهِيَ تَمُوتُ وَعِنْدَهَا ابْنُ أَخِيهَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقَالَ هَذَا ابْنُ عَبَّاسٍ يَسْتَأْذِنُ عَلَيْكِ وَهُوَ مِنْ خَيْرِ بَنِيكِ فَقَالَتْ دَعْنِي مِنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَمِنْ تَزْكِيَتِهِ فَقَالَ لَهَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ فَقِيهٌ فِي دِينِ اللَّهِ فَأْذَنِي لَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْكِ وَلْيُوَدِّعْكِ قَالَتْ فَأْذَنْ لَهُ إِنْ شِئْتَ قَالَ فَأَذِنَ لَهُ فَدَخَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ ثُمَّ سَلَّمَ وَجَلَسَ وَقَالَ أَبْشِرِي يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَكِ وَبَيْنَ أَنْ يَذْهَبَ عَنْكِ كُلُّ أَذًى وَنَصَبٍ أَوْ قَالَ وَصَبٍ وَتَلْقَيْ الْأَحِبَّةَ مُحَمَّدًا وَحِزْبَهُ أَوْ قَالَ أَصْحَابَهُ إِلَّا أَنْ تُفَارِقَ رُوحُكِ جَسَدَكِ فَقَالَتْ وَأَيْضًا فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتِ أَحَبَّ أَزْوَاجِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ يُحِبُّ إِلَّا طَيِّبًا وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَرَاءَتَكِ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ فَلَيْسَ فِي الْأَرْضِ مَسْجِدٌ إِلَّا وَهُوَ يُتْلَى فِيهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَسَقَطَتْ قِلَادَتُكِ بِالْأَبْوَاءِ فَاحْتَبَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنْزِلِ وَالنَّاسُ مَعَهُ فِي ابْتِغَائِهَا أَوْ قَالَ فِي طَلَبِهَا حَتَّى أَصْبَحَ الْقَوْمُ عَلَى غَيْرِ مَاءٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا } الْآيَةَ فَكَانَ فِي ذَلِكَ رُخْصَةٌ لِلنَّاسِ عَامَّةً فِي سَبَبِكِ فَوَاللَّهِ إِنَّكِ لَمُبَارَكَةٌ فَقَالَتْ دَعْنِي يَا ابْنَ عَبَّاسٍ مِنْ هَذَا فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Khutsaim, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Dzakwaan maulaa ‘Aaisyah : Bahwasannya ia (Dzakwaan) memintakan ijin Ibnu ‘Abbaas kepada ‘Aaisyah yang waktu itu sedang sakit menjelang kematiannya dan di sisinya ada anak saudaranya, ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman. Dzakwan berkata : "Ini Ibnu ‘Abbaas meminta ijin kepadamu dan ia termasuk putra terbaik kaummu". ‘Aaisyah menjawab : "Bebaskan aku dari Ibnu ‘Abbaas dan tazkiyah-nya". ‘Abdurrahmaan berkata kepada ‘Aaisyah : "Ia adalah Qaari` Kitabullah dan orang yang faqih dalam agama. Ijinkanlah ia mengucapkan salam kepadamu dan menjengukmu". ‘Aaisyah berkata : "Ijinkan ia jika engkau berkenan". ‘Abdurrahmaan pun mengijinkan Ibnu ‘Abbaas masuk, maka Ibnu ‘Abbaas pun masuk, mengucapkan salam dan duduk. Lalu Ibnu ‘Abbaas berkata : "Bergembiralah wahai Ummul-Mukminiin. 

Demi Allah, tidak ada yang menghalangi antara dirimu dan perginya segala penyakit dan bala', serta pertemuan dengan orang-orang tercinta, Muhammad dan pengikutnya - atau dalam satu riwayat -, para sahabatnya, melainkan ruh yang berpisah dari jasadmu". ‘Aaisyah berkata : "Tambah lagi". Ibnu ‘Abbaas lalu berkata : "Engkau adalah isteri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang paling dicintai, sedangkan beliau tidak mencintai melainkan yang baik. 

Allah menurunkan ayat yang berisi pembebasan dirimu dari atas langit ketujuh, maka tidak satu pun masjid yang luput dari membaca ayat tersebut di waktu pagi dan petang. Dan ketika kalungmu terjatuh di Abwaa', maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun tertahan bersama para sahabatnya untuk mencari kalung tersebut hingga shubuh mendatangi mereka dalam keadaan tidak mendapatkan air untuk berwudlu, kemudian Allah menurunkan ayat : ‘Maka bertayammumlah dengan tanah yang suci' (QS. Al Maidah : 6), yang mana perkara tayammum ini adalah keringanan untuk umat yang disebabkan olehmu. Maka demi Allah, engkau adalah wanita yang penuh dengan berkah". 'Aaisyah berkata :  "Wahai Ibnu ‘Abbaas, tinggalkan aku dari itu semua. Demi Allah, sungguh aku ingin sekali menjadi orang yang lupa dan dilupakan" [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/349 dan dalam Al-Fadlaail no. 1639]. Riwayat ini shahih.[5]

Oleh karenanya, Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :
ولا أعلم في أمه محمد صلى الله عليه وسلم، بل ولا في النساء مطلقا، أمرأة أعلم منها.
وذهب بعض العلماء إلى أنها زوجة نبينا صلى الله عليه وسلم في الدنيا والآخرة، فهل فوق ذلك مفخر
“Aku tidak mengetahui seorang pun di kalangan umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan di kalangan wanita secara mutlak, ada wanita yang lebih pandai darinya. Dan sebagian ulama berpendapat bahwa ia merupakan istri Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat. Apakah ada kebanggan yang melebihi hal itu ?” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 2/140].

Ya benar, tidak ada kebanggaan bagi seorang wanita melebihi kebanggaan mendampingi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat (jannah).

Segala karunia yang Allah ta’ala berikan kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa ternyata tidaklah membuat senang semua pihak. Ada saja pihak-pihak tertentu yang senantiasa sakit kepala membaca riwayat-riwayat ini. Misalnya, Al-‘Ayyaasyiy – salah seorang mufassir Syi’ah – menukil riwayat ‘tandingan’, demi menjatuhkan kedudukan ‘Aaisyah, dari perkataan Ja’far Ash-Shaadiq dengan sanadnya tentang firman Allah ta’ala :
وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali” (QS. An-Nahlo : 92)

ia (Ja’far Ash-Shaadiq) berkata :
التي نقضت غزلها من بعد قوة أنكاثا : عائشة، هي نكثت  إيمانها
“Seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali; adalah ‘Aaisyah, yang tercerai-berai imannya” [Tafsir Al-‘Ayyaasyiy, 2/269. Lihat pula Al-Burhaan oleh Al-Bahraaniy 2/383 dan Bihaarul-Anwaar oleh Al-Majlisiy 7/454].

Al-‘Ayyaasy kembali menukil riwayat dusta dengan sanadnya dari Ja’far Ash-Shaadiq tentang firman Allah ta’ala yang menggambarkan neraka :
لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ
“Jahanam itu mempunyai tujuh pintu” (QS. Al-Hijr : 44)

Ia (Ja’far Ash-Shaadiq) berkata :
يؤتى بجهنم لها سبعة أبواب..... والباب السادس لعسكر.....
“Jahannam didatangkan sedangkan ia mempunyai tujuh buah pintu…… dan pintu keenam adalah untuk ‘pasukan’ (‘askar)….” [Tafsir Al-‘Ayaasyiy 2/243. Lihat juga : Al-Burhaan oleh Al-Bahraaniy 2/345 dan Bihaarul-Anwaar oleh Al-Majlisiy 4/378 & 8/220].

‘Pasukan’ (‘askar) dalam perkataan di atas merupakan kinaayah dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhu sebagaimana dikatakan oleh Al-Majlisiy. Maksudnya, ‘Aaisyah adalah orang yang menaiki onta saat peperangan Jamal, sehingga disebut sebagai ‘askar [Bihaarul-Anwaar, 4/378 & 8/220].

Tentu saja ini dusta atas nama Allah ta’ala.

Entek amek kurang golek, tidak cukup berdusta atas nama Allah, mereka perlu membuat kedustaan tambahan atas nama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam[6]. Katanya, dengan sanad sampai dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah bersabda :
لا يبغض عليا أحد من أهلي ولا من أمتي إلا خرج من الإيمان
“Tidak ada seorang pun dari kalangan keluargaku/istriku dan tidak pula dari umatku yang membenci ‘Aliy, kecuali ia telah keluar dari keimanan (= kafir)” [lihat : Al-Ikhtishaash oleh Al-Mufiid, hal. 118].

يا علي حربك حربي
“Wahai ‘Aliy, orang yang memerangimu ekuivalen dengan memerangiku” [Ash-Shiraathul-Mustaqiim oleh Al-Bayaadliy, 3/161].

Lantas mereka (orang-orang Syi’ah) berkata : “Orang yang memerangi Nabi itu kufur” [Ash-Shiraathul-Mustaqiim oleh Al-Bayaadliy, 3/161]. Konsekuensinya, ‘Aaisyah pun kufur karena perselisihannya dengan ‘Aliy.

***

‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa adalah istri/wanita yang paling dicintai oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ قَالَ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ حَدَّثَنَا عَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ فَقُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَعَدَّ رِجَالًا
Telah menceritakan kepada kami Ma’laa bin Asad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Mukhtaar, ia berkata : Telah berkata Khaalid Al-Hadzdzaa’ dari Abu ‘Utsmaan, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mengutusnya beserta rombongan pasukan Dzatus-Sulaasil. Lalu aku ('Amru) bertanya kepada beliau : "Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”. Beliau menjawab : "'Aisyah". Aku kembali bertanya : "Kalau dari kalangan laki-laki?". Beliau menjawab : "Bapaknya (yaitu Abu Bakr)". Aku kembali bertanya : "Kemudian siapa lagi?". Beliau menjawab : "'Umar bin Al-Khaththab". Selanjutnya beliau menyebutkan beberapa orang laki-laki" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3662].

Oleh karenanya, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering memanggilkan dengan kata-kata indah bagi ‘Aisyah yang menunjukkan kedekatan dan kasih-sayang. Di antaranya beliau kadang memanggilnya dengan ‘Aaisy’ :
حدثنا أبو اليمان: أخبرنا شعيب، عن الزُهري قال: حدثني أبو سلمة بن عبد الرحمن، أن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا عائش هذا جبريل يقرئك السلام). قلت: وعليه السلام ورحمة الله، قالت: وهو يرى ما لا نرى.
Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abirrahmaan : Bahwasannya ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Yaa ‘Aaisy, ini Jibril mengucapkan salam kepadamu”. Aku (‘Aaisyah) berkata : “Wa’alaihis-salaam warahmatullaah”. ‘Aaisyah berkata : “Jibril itu melihat sesuatu yang tidak kita lihat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6201].

Beliau pun memanggil ‘Aaisyah dengan Humairaa’ (yang kemerah-merahan).
أنا يونس بن عبد الأعلى قال أنا بن وهب قال أخبرني بكر بن مضر عن بن الهاد عن محمد بن إبراهيم عن أبي سلمة بن عبد الرحمن عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت : دخل الحبشة المسجد يلعبون فقال لي يا حميراء أتحبين أن تنظري إليهم فقلت نعم فقام بالباب وجئته فوضعت ذقني على عاتقه فأسندت وجهي إلى خده قالت ومن قولهم يومئذ أبا القاسم طيبا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم حسبك فقلت يا رسول الله لا تعجل فقام لي ثم قال حسبك فقلت لا تعجل يا رسول الله قالت ومالي حب النظر إليهم ولكني أحببت أن يبلغ النساء مقامه لي ومكاني منه 
Telah memberitakan kepada kami Yuunus bin ‘Abdil-A’laa, ia berkata : Telah memberitaan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Bakr bin Mudlar, dari Ibnul-Haad, dari Muhammad bin Ibraahiim, dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan, dari ‘Aaisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : Orang-orang Habasyah masuk ke masjid dan bermain-main. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : “Wahai Humairaa’, apakah engkau suka melihat mereka ?”. Aku berkata : “Ya”. 

Lalu beliau berdiri di samping pintu, lalu aku menghampiri beliau dan aku letakan daguku di atas pundak beliau. Lalu akupun menyandarkan wajahku di pipi beliau”. ‘Aaisyah melanjutkan : “Dan yang termasuk perkataan orang-orang Habasyah tersebut adalah : ‘Wahai Abul-Qaasim yang baik’. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Cukupkah engkau (melihatnya)”. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, janganlah terburu-buru”. Maka beliau pun kembali berdiri. Setelah itu beliau kembali berkata : “Cukupkah engkau (melihatnya)?”. Aku berkata : “Jangan terburu-buru, wahai Rasulullah”. Sebenarnya aku tidak begitu tertarik melihat mereka, akan tetapi aku senang memperlihatkan kepada para wanita lainnya tentang kedudukan beliau bagiku, dan juga kedudukanku di hati beliau” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa, 8/181 no. 8902 dan Ath-Thahaawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 1/268 no. 292].
Hadits ini shahih.[7]

Itu semua merupakan wujud kecintaan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa.

Kebalikannya, dari kelompok Syi’ah, mari kita simak penuturan Ya’quub bin Sarraaj :
قَالَ لِيَ اذْهَبْ فَغَيِّرِ اسْمَ ابْنَتِكَ الَّتِي سَمَّيْتَهَا أَمْسِ فَإِنَّهُ اسْمٌ يُبْغِضُهُ اللَّهُ وَ كَانَ وُلِدَتْ لِيَ ابْنَةٌ سَمَّيْتُهَا بِالْحُمَيْرَاءِ
“Maka Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam) berkata kepadaku : ‘Pergilah dan ganti nama anak perempuanmu yang telah engkau beri nama kemarin, karena ia adalah nama yang membuat Allah murka’. (Ya’qub bin Sarraaj berkata : ) Kemarin aku dikaruniai anak perempuan yang aku namakan Al-Humairaa” [Al-Kaafiy, 1/310].

Bagaimana Allah ta’ala bisa murka dengan sesuatu yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam cinta kepadanya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridla dengan nama Humairaa’. Telah banyak riwayat yang menyatakan bahwa beliau mengganti nama-nama buruk sebagian shahabat menjadi nama-nama yang baik sesuai syari’at. Dan Humairaa’ adalah salah satu nama/sebutan yang dipilihkan beliau untuk istrinya. Allah tidak murka dengan nama Humairaa’. Justru, Allah ta’ala murka dengan ulah orang-orang Syi’ah yang telah memanipulasi riwayat dengan mengatasnamakan Allah dan Ahlul-Bait.

****

Allah ta’ala telah menyebut istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam – dan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa salah satu di antaranya - dengan sebutan Ummahatul-Mukminiin (ibunya orang-orang yang beriman) sebagaimana tersebut dalam firman-Nya :
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka” [QS. Al-Ahzaab : 6].

Namun tahukah Pembaca Budiman apa yang diucapkan oleh lidah-lidah karatan ulama Syi’ah dalam perkara ini ? Mereka katakan bahwa Ahlus-Sunnah lah yang membuat-buat istilah itu. Telah berkata Ibnul-Muthahhar Al-Hulliy, salah seorang pentolan ulama mereka :
وسموها أمّ المؤمنين، ولم يسموا غيرها بذلك الاسم
“Dan mereka (Ahlus-Sunnah telah menamakan ‘Aaisyah dengan Ummul-Mukminiin, dan mereka tidak menamakan selain dirinya dengan nama itu” [Minhaajul-Karaamah – bersama Minhaajus-Sunnah 2/198].

Bahkan, mereka menyebut Ummul-Mukminiin ‘Aaisyah radliyalaahu ‘anha sebagai Ummusy-Syuruur (أم الشرور) – ‘biang kejelekan’ sebagaimana diucapkan oleh Al-Bayaadliy dalam kitabnya Ash-Shiraathul-Mustaqiim 3/161.

Semoga Allah ta’ala membalas kekejiannya dengan setimpal.

Itulah Ummul-Mukminiin ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ketinggian derajat dan kedudukannya di mata Islam. Istri yang paling dicintai beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat. Sekaligus sedikit informasi tentang mauqif Syi’ah kepadanya. Tidak memudlaratkan kebencian orang-orang yang membenci dari kalangan Syi’ah Raafidlah. Tidaklah salah jika kita mengambil kesimpulan bahwa Islam di satu sisi dan Syi’ah di sisi lain.

Semoga Allah ta’ala memberikan manfaat dari tulisan kecil ini.

-------------------------------------------------------------------------------
[1] Keterangan perawi :
a.     ‘Abdun bin Humaid bin Nashr Al-Kussiy; seorang yang tsiqah lagi haafidh (w. 249 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 634 no. 4294].
b.    ‘Abdurrazzaaq, ia adalah Ibnu Hammaam bin Naafi’ Al-Humairiy Al-Yamaaniy, Abu Bakr Ash-Shan’aaniy (wafat : 211 H); seorang tsiqah, haafidh, penulis terkenal, namun kemudian mengalami kebutaan sehingga berubah hapalannya di akhir umurnya [idem, hal. 607 no. 4092]. ‘Abdun bin Humaid di sini mendengar riwayat ‘Abdurrazzaaq sebelum ikhtilath-nya [Al-Mukhtalithiin oleh Al-‘Alaaiy hal. 92-93 no. 29 beserta komentar muhaqqiq-nya]. Muslim berhujjah dengan riwayat ‘Abdun bin Humaid dari ‘Abdurrazzaaq, sebagaimana dikatakan oleh Al-‘Iraaqiy [Al-Ightibaath biman Rumiya minar-Ruwaat bil-Ikhtilaath, hal. 219].
c.     ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Alqamah Al-Kinaaniy Al-Makkiy; seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 530 no. 3526].
d.    Ibnu Abi Husain adalah ‘Umar bin Sa’iid bin Abi Husain Al-Qurasyiy An-Naufaliy Al-Makkiy; seorang yang tsiqah. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 719 no. 4939].
e.    Ibnu Abi Mulaikah, ia adalah ‘Abdullah bin ‘Ubaidillah bin Abi Mulaikah; seorang yang tsiqah lagi faqiih (w. 117 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 719 no. 4939].
Sanad hadits ini shahih.
‘Umar bin Sa’iid bin Abi Husain mempunyai mutaba’ah dari ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim; sebagaimana diriwayatkan oleh Ishaaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya no. 1237, dan darinya Ibnu Hibbaan meriwayatkan dalam Shahih-nya no. 7094.
‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim Al-Qaariy, Abu ‘Utsmaan Al-Makkiy; seorang yang shaduuq (w. 132 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 526 no. 3489].
At-Tirmidziy berkata :
وَقَدْ رَوَى عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مُرْسَلًا وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عَائِشَةَ وَقَدْ رَوَى أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا مِنْ هَذَا
“Hadits ini telah diriwayatkan oleh ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Alqamah dengan sanad ini secara mursal, tanpa menyebut padanya ‘Aaisyah. Dan Abu Usaamah juga telah meriwayatkan dari Hisyaam bin ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aaisyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai sesuatu dari hadits ini” [Al-Jaami’, 6/181].
Diriwayatkannya hadits ini dari jalur Ibnu Mahdiy secara mursal tidaklah membuat hadits ini cacat, sebab sanad bersambung lebih kuat daripada yang mursal. Bahkan, sanad mursal ini menjadi penguat dari sanad hadits maushul ini.

[2] Keterangan perawi :
a.     Ibnu Khuzaimah, seorang imam yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Lihat biografinya dalam artikel : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/09/biografi-ibnu-khuzaimah.html.
b.    Sa’iid bin Yahyaa bin Sa’iid bin Abaan Al-Umawiy; seorang yang tsiqah, namun kadang melakukan kekeliruan (w. 249 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 390 no. 2428]. Kekeliruan yang disifatkan padanya tidak memudlaratkan riwayatnya, karena hanya sedikit.
c.     Yahyaa bin Sa’iid bin Abaan bin Sa’iid bin Al-‘Aash Al-Umawiy, Abu Ayyuub Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq yughrib (w. 194 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1055 no. 7604]. Namun perkataan yang lebih benar tentang dirinya, ia seorang yang tsiqah, sebagaimana dikatakan Adz-Dzahabiy [Al-Kaasyif, 2/366 no. 6172]. Telah di-tsiqah-kan oleh sejumlah ulama seperti : Ibnu Ma’iin, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Ammaar, Ad-Daaruquthniy, Abu Daawud, An-Nasaa’iy, Ibnu Hibbaan, dan Ibnu Sa’id.
d.    Sa’iid bin Katsiir bin ‘Ubaid Al-Qurasyiy At-Taimiy, Abul-‘Anbas Al-Malaaiy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 386 no. 2394].
e.    Katsiir bin ‘Ubaid Al-Qurasyiy At-Taimiy, Abu Sa’iid Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq hasanul-hadiits [Tahriirut-Taqriib, 3/194 no. 5619].

Sanad hadits ini hasan, dan ia menjadi shahih (lighairihi) dengan penguat hadits sebelumnya.
[3] Silakan baca artikel kami di : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/11/apakah-aisyah-berniat-memerangi-ali.html.

[4] Keterangan perawi :
a.     Yahyaa bin Aadam bin Sulaimaan Al-Qurasyiy Al-Umawiy, Abu Zakariyyaa Al-Kuufiy; seorang tsiqah, haafidh, lagi mempunyai keutamaan (w. 203 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1047-1048 no. 7546].
b.    Israaiil, ia adalah Ibnu Yuunus bin Abi Ishaaq As-Sabii’iy Al-Hamdaaniy; seorang yang tsiqah (w. 160 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 134 no. 405].
c.     Abu Ishaaq, ia adalah As-Sabii’iy, ‘Amru bin ‘Abdillah bin ‘Ubaid Al-Hamdaaniy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, banyak haditsnya, ‘aabid, namun bercampur hapalannya di akhir umurnya (w. 129 dalam usia 96 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 739 no. 5100]. Israail mendengar hadits dari Abu Ishaaq di akhir umurnya [Al-Ightibaath, hal. 278-279].
d.    ‘Ariib bin Humaid, Abu ‘Ammaar Al-Hamdaaniy Ad-Duhniy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 675 no. 4605].
Riwayat di atas juga dibawakan oleh Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah 3/186 dan Ibnu Sa’d 8/65 dari jalan Israaiil bin Yuunus.
Israaiil dalam periwayatan dari Abu Ishaaq mempunyai mutaba’ah dari :
a.     Al-Jarraah bin Maliih, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Fadlaail no. 1631 : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari ayahnya, dari Abu Ishaaq.
Keterangan perawi :
Wakii’ bin Al-Jarraah bin Maliih Ar-Ruaasiy Abu Sufyaan Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi ‘aabid (127/128/129-196/197 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1037 no. 7464].
Al-Jarraah bin Maliih Ar-Ruaasiy Abu Wakii’ Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq, sering keliru  (w. 175/176 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 196 no. 916].
b.    Yuunus bin Abi Ishaaq, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 2/44 : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Iisaa Muusaa bin ‘Aliy Al-Khataliy : Telah menceritakan kepada kami Jaabir bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Faqiih, dari Yuunus bin Abi Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaaq.
Muhammad bin Al-Hasan adalah seorang perawi yang sangat lemah [lihat Mishbaahul-Ariib, 3/106 no. 23151].
c.     ‘Amru bin Qais dan Sufyaan Ats-Tsauriy, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy 23/40 no. 102 dan Al-Haakim no. 5684 : Telah menceritakan kepada kami Asy-Syaikh Abu Bakr bin Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abaan Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Syihaab Al-Hanaath : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Qais dan Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Abu Ishaaq.
Abu Bakr bin Ishaaq adalah Al-Haafidh Ibnu Khuzaimah. Ia, ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dan Sufyaan Ats-Tsauriy adalah orang-orang tsiqaat yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Muhammad bin Abaan bin ‘Imraan As-Sulamiy, Abul-Hasan Al-Waasithiy; seorang yang shaduuq (w. 238 H). Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 819 no. 5724].
Abu Syihaab Al-Hanaath, ia adalah ‘Abdu Rabbih bin Naafi’ Al-Kinaaniy Al-Hanaath; seorang yang shaduuq mendekati tsiqah (w. 171/172). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Tahrriut-Taqriib, 2/304 no. 3790].
d.    Zuhair bin Mu’aawiyyah, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d sebagaimana dalam Musnad-nya no. 2629, dan dari jalannya Ath-Thabaraaniy 23/40 no. 103.
Zuhair bin Mu’aawiyyah seorang yang tsiqah lagi tsabat [Taqriibut-Tahdziib, hal. 342 no. 2062].
Riwayat tersebut juga dibawakan oleh :
a.     At-Tirmidziy no. 3888 dari Muhammad bin Basyaar : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan.
Semua perawi yang disebutkan adalah tsiqaat.
b.    Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 22/184 dengan sanadnya sampai Abul-Qaasim Al-Baghawiy : Telah menceritakan kepada kami Basyaar bin Muusaa : Telah menceritakan kepada kami Syariik.
Basyaar bin Muusa dan Syariik adalah dua orang perawi lemah.
Keduanya (Sufyaan dan Syariik) dari Abu Ishaaq, dari ‘Amru bin Ghaalib, dari ‘Ammaar bin Yaasir radliyallaahu ‘anhu.
‘Amru bin Ghaalib adalah seorang yang tsiqah, telah di-tsiqah-kan oleh An-Nasaa’iy, At-Tirmidziy, dan Ibnu Hibbaan [Tahdziibut-Tahdziib, 8/88].
Semua riwayat di atas sanadnya berporos pada Abu Ishaaq yang meriwayatkan dari ‘Ariib bin Humaid dan ‘Amru bin Ghaalib dengan ‘an’anah. Ia (Abu Ishaaq) sendiri seorang mudallis. Ibnu Hajar meletakkannya pada martabat ketiga [lihat : Thabaqaatul-Mudallisiin no. 91]. Akan tetapi ini perlu di-tahqiq. Yang benar, ia seorang yang sedikit tadlis-nya. Riwayatnya tetap dihukumi bersambung selama tidak ada bukti bahwa ia memang melakukan tadlis terhadap riwayat tersebut. Ada bahasan menarik tentang tadlis Abu Ishaaq As-Sabi’iy ini, silakan baca : http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=104306.
Adapun periwayatan para perawi setelah ikhtilath-nya, maka itu ndak ngaruh karena keberadaan beberapa mutaba’aat yang disebutkan di atas.
Kesimpulannya, riwayat ini shahih, sebagaimana dikatakan oleh At-Tirmidziy. Wallaahu a’lam.
Catatan : Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah men-dla’if-kan riwayat ini, sebagaimana tertuang dalam Dla’iif Sunan At-Tirmidziy hal. 445.

[5] Keterangan perawi :
a.     ‘Abdurrazzaaq bin Hammaam, telah lalu keterangan tentangnya.
b.    Ma’mar bin Raasyid Al-Azdiy, Abu ‘Urwah Al-Bashriy; seorang yang tsiqah lagi tsabat (w. 154 dalam usia 58 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 961 no. 6857].
c.     Ibnu Khutsaim, ia adalah ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim. Telah lalu keterangan tentangnya.
d.    Ibnu Abi Mulaikah, telah lalu keterangan tentangnya.
e.    Dzakwaan, Abu ‘Amru Al-Madaniy, maula ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa; seorang yang tsiqah. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 313 no. 1851].
Sanad hadits ini shahih.
‘Abdurrazzaaq mempunyai mutaba’ah dari Sufyaan bin ‘Uyainah sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad 1/220 tanpa menyebutkan Dzakwaan.
Diriwayatkan pula Al-Haakim 4/8-9 dari ‘Aliy bin Hamsyaadz Al’Adl : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muusaa : Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan (bin ‘Uyainah), dari ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, dari Ibnu Abi Mulaikah, tanpa menyebutkan Dzakwaan. Selain tidak menyebutkan Dzakwaan, riwayat Al-Haakim ini juga tidak menyebutkan Ma’mar bin Raasyid antara Sufyaan dan Ibnu Khutsaim.
Ma’mar dalam periwayatan dari Ibnu Khutsaim mempunyai mutaba’aat dari :
a.     Zaaidah bin Qudaamah; sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad 1/277 dan Ath-Thabaraaniy 10/390-391 no. 10783 dari jalan Mu’aawiyyah bin ‘Amru, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Zaaidah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Khutsaim.
Mu’aawiyyah bin ‘Amru bin Al-Muhallab adalah tsiqah [idem, hal. 956 no. 6816]. Adapun Zaaidah bin Qudaamah, ia seorang yang tsiqah lagi tsabat [idem, hal. 333 no. 1993].
b.    Zuhair bin Mu’aawiyyah; sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah hal. 47-48 no. 84 : Telah menceritakan kepada kami An-Nufailiy : Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Mu’aawiyyah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim.
An-Nufailiy, ia adalah ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aliy bin Nufail Al-Qadlaa’iy, Abu Ja’far An-Nufailiy; seorang yang tsiqah lagi haafidh [idem, hal. 543 no. 3619].
c.     Bisyr bin Al-Mufadldlal; sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ya’laa no. 2648 : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kam ‘Abdullah bin ‘Utsmaan (bin Khutsaim).
‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Maisarah Al-Qawaaririy adalah seorang yang tsiqah lagi tsabat [idem, hal. 643 no. 4354]. Bisyr bin Al-Mufadldlal bin Laahiq Ar-Raqqaasiy adalah seorang yang tsiqah, tsabat, lagi ‘aabid [idem, hal. 171 no. 710].
d.    Yahyaa bin Sulaim; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 7108 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 2/45 dari jalan Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Janaad Al-Halabiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sulaim, dari ‘Abdulah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim; dengan tanpa menyebutkan Dzakwaan.
Al-Hasan bin Sufyan bin ‘Aamir bin ‘Abdil-‘Aziz An-Nasawiy, seorang yang tsiqah [Mishbaahul-Ariib, 1/336 no. 6988]. Al-Haitsaam bin Jannaad, disebutkan Ibnu Hibbaan dalam Ats-Tsiqaat 9/237. Yahyaa bin Sulaim Al-Qurasyiy Ath-Thaaifiy, seorang yang shaduuq, namun jelek hapalannya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1057 no. 7613].
Ibnu Khutsaim dalam periwayatan dari Ibnu Abi Mulaikah juga mempunyai mutaba’aah dari ‘Umar bin Sa’iid bin Abi Husain; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4753; tanpa menyebutkan Dzakwaan.
Atsar ini juga diriwayatkan secara ringkas oleh Ahmad dalam Al-Fadlaail no. 1636 dari jalan Wakii’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Abi Ibraahiim, dari ‘Abdullah bin ‘Ubaid : “Ibnu ‘Abbaas meminta ijin kepada ‘Aaisyah (untuk menemuinya/menjenguknya) saat ia sakit yang membawa kepada kematiannya…..dst”.
Haaruun bin Abi Ibraahiim Al-Barbariy, seorang yang tsiqah [Al-Jarh wat-Ta’diil, 9/96-97 no. 399]. ‘Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair bin Qataadah Al-Laitsiy, seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 524-525 no. 3478].
Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy secara ringkas no. 3771 dari jalan Muhammad bin Basyaar, dan no. 4754 dari jalan Muhammad bin Al-Mutsannaa; keduanya berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Wahhaab bin ‘Abdil-Majiid : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari Al-Qaasim : “Bahwasannya Ibnu ‘Abbaas meminta ijin kepada ‘Aaisyah…..dst.”.

[6] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat shahih lagi mutawatir bersabda :
من كذب علي متعمدا فليتبوء مقعده من النار
“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka persiapkan tempat duduknya (kelak) di neraka”.

[7] Keterangan perawi :
a.     Yuunus bin ‘Abdil-A’laa bin Maisarah bin Hafsh bin Hayyaan Ash-Shadafiy, Abu Muusaa Al-Mishriy; seorang yang tsiqah (170-264 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1098 no. 7964].
b.    ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al-Qurasyiy Al-Fihriy, Abu Muhammad Al-Mishriy Al-Faqiih; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi ‘aabid (125-197 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 556 no. 3718].
c.     Bakr bin Mudlar bin Muhammad bin Hakiim bin Salmaan, Abu Muhammad/Abu ‘Abdil-Malik Al-Mishriy; seorang yang tsiqah lagi tsabat (102-173/174 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 176 no. 759].
d.    Ibnul-Haad, ia adalah Yaziid bin ‘Abdillah bin Usaamah bin Al-Haad Al-Laitsiy, Abu ‘Abdillah Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, banyak haditsnya (w. 139 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1077 no. 7788].
e.    Muhammad bin Ibraahiim bin Al-Haarits bin Khaalid Al-Qurasyiy At-Taimiy; seorang yang tsiqah (lahu afraad) (w. 120 dalam usia 74 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 819 no. 5727].
f.      Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Auf Al-Qurasyiy Az-Zuhriy Al-Madaniy; seorang yang tsiqah banyak haditsnya (w. 94 H dalam usia 72 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1155 no. 8203].
Para perawinya tsiqaat, sanadnya bersambung, dan tidak ada ‘illat sedikitpun.
Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath 2/444 dan Al-‘Iraaqiy dalam Takhriij Al-Ihyaa’ 1/393.

Sumber: Abul Jauzaa
Read More...

Wasiat Nabi kepada ‘Ali yang Tidak Diterima oleh Orang Syi’ah

wasiat nabi
Pingin tahu atau pingin tahu banget ?. Dalam referensi Syi’ah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam pernah berkata kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu :
....... يا علي أنت وصيي على أهل بيتي حيهم وميتهم، وعلى نسائي: فمن ثبتها لقيتني غدا، ومن طلقتها فأنا برئ منها، لم ترني (5) ولم أرها في عرصة القيامة، وأنت خليفتي على أمتي من بعدي.......
“….Wahai ‘Aliy, engkau adalah washiy-ku terhadap Ahlul-Baitku, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, (dan juga washiy-ku) terhadap istri-istriku. Barangsiapa (diantara istriku) yang tetap aku pertahankan, maka ia akan berjumpa denganku kelak (di surga). Dan barangsiapa (diantara istriku) yang aku ceraikan, maka aku berlepas diri darinya. Ia tidak akan melihatku dan akupun tidak akan melihatnya kelak di padang Mahsyar. Engkau adalah khalifahku atas umatku sepeninggalku kelak….” [Al-Ghaibah oleh Ath-Thuusiy, hal. 150 – sumber : sini].

Lafadhnya sebenarnya panjang, namun saya cuplik yang berkaitan dengan judul saja. Riwayat ini menarik, karena secara umum orang-orang Syi’ah memegang dan berhujjah dengannya (kecuali sedikit hal yang akan dibahas di bawah).

Pertanyaannya : Siapakah di antara istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang tetap dipertahankan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir hayat beliau ?. Benar, di antaranya ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa. Lantas, kenapa ?. Konsekuensinya, menurut riwayat di atas, ‘Aaisyah akan menemui beliau kelak di surga. Bisa dipahami ?.

Pendek kata, ‘Aaisyah termasuk ahli surga.

Tapi apakah orang-orang Syi’ah menerimanya ?. Ternyata tidak. Mereka adalah orang yang pertama kali melanggar riwayat yang mereka tulis sendiri. Mereka menerima semua kalimat, kecuali yang berwarna biru. Tidak ada sesuatu yang menyebabkan mereka menolak (konsekuensi) kalimat yang berwarna biru di atas kecuali karena kebencian dan dendam kesumat, turun temurun dari generasi ke generasi.

Mereka adalah kaum yang pertama kali berkhianat terhadap wasiat Nabi. Mereka mencaci-maki dan mengkafirkan istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Tak percaya ?. Lihat dan dengarkan cacian Hasan Syahaatah (yang beberapa waktu lalu mati terhina di jalanan) terhadap ‘Aaisyah (dan juga shahabat Nabi yang lain) :


Tentang bukti penolakan terhadap wasiat Nabi di atas, maka simaklah alur logika ‘kocak’ (maaf) saat mereka berdebat dengan Asy-Syaikh ‘Adnaan ‘Ar’uur hafidhahullah berikut :


Untuk mencintai ‘Aaisyah dan istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam yang lain, kita tidak terlalu butuh riwayat Ath-Thuusiy, karena Allah ta’ala berfirman :

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ 

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka” [QS. Al-Ahzaab : 6].[1]

Mereka adalah ibu-ibu kita. Tidak akan mungkin kita mencaci maki dan mengkafirkan ibu kita, ibu orang-orang beriman (ummahatul-mukminiin).

Wallaahul-musta’aan.

--------------------------------------------
[1] Baca artikel : ‘Aaisyah adalah Istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa salam di Dunia dan Akhirat.

Sumber: Ust. Abul Jauzaa
Read More...

Ulama Syiah: Abu Bakar, Umar, Aisyah dan Muawiyah adalah Nama-Nama Pintu Neraka Jahannam!

Semakin lama membuka lembaran-lembaran ajaran Syiah dari kitab-kitab induk penyesat umat semakin nampaklah kesesatan ajarannya yang sangat provokator menghina dan melecehkan tokoh-tokoh utama dalam Islam seperti sahabat Nabi yang paling mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dan Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu. Bahkan seorang ummahatul mukminin, istri yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Aisyah radhiyallahu anha.

Nama-nama mulia itu disebut sebagai nama-nama pintu neraka jahannam!

Semoga Allah yang mahaperkasa membalas mereka dengan azab pedih di alam kubur dan neraka.

Pendeta terkemuka Syiah, Al-Majlisi menuliskan kata-kata keji itu dalam kitabnya Biharul Anwar, jilid 3, hal 577 berikut ini:

عن أبي بصير قال: يؤتي بجهنم لها سبعة أبواب: بابها الأول للظالم وهو زريق، وبابها الثاني لحبتر، والباب الثالث للثالث، والرابع لمعاوية، والباب الخامس لعبد الملك، والباب السادس لعسكر بن هو سر، والباب السابع لأبي سلامة، فهم (فهي خ ل) أبواب لمن اتبعهم

بيان: الرزيق كناية عن أبي بكر لان العرب يتشأم بزرقة العين. والحبتر هو عمر، والحبتر هو الثعلب، ولعله إنما كني عنه لحيلته ومكره، وفي غيره من الاخبار

وقع بالعكس وهو أظهر إذا الحبتر بالأول أنسب، ويمكن أن يكون هنا أيضا المراد ذلك، وإنما قدم الثاني لأنه أشقى وأفظ وأغلظ. وعسكر بن هو سر كناية عن بعض خلفاء بني أمية أو بني العباس، وكذا أبي سلامة، ولا يبعد أن يكون أبو سلامة كناية عن أبي جعفر الدوانيقي، ويحتمل أن يكون عسكر كناية عن عائشة وسائر أهل الجمل إذ كان اسم جمل عائشة عسكرا، وروي أنه كان شيطانا

Dari Abu Bashir, ia berkata, Neraka Jahannam didatangkan dan memiliki tujuh pintu. Pintu pertama untuk si zalim yaitu zariq. Pintu kedua untuk si Habtar. Pintu ketiga untuk yang ketiga. Pintu keempat untuk Muawiyah. Pintu kelima untuk Abdul Malik. Pintu keenam untuk Askar bin Husir. Pintu ketujuh untuk Abu Salamah. Pintu-pintu itu juga diperuntukkan untuk pengikut-pengikut mereka.

Penjelasan: Zariq adalah sebutan untuk Abu Bakar. Habtar sebutan untuk Umar. Habtar adalah serigala, mungkin disebut begitu karena kelicikan dan makarnya. Dalam riwayat lain disebutkan sebaliknya dan itulah yang lebih benar, yaitu Habtar untuk yang pertama lebih sesuai. Mungkin juga berada disini dengan maksud seperti itu. Sedangkan yang kedua didahulukan karena ia lebih keras dan lebih keji. Askar bin Husir adalah sebutan untuk beberapa Khalifah Bani Umayyah atau Bani Abbasiyah. Begitu juga dengan Abu Salamah. Tidak salah juga jika Abu Salamah merupakan sebutan untuk Abu Ja'far Ad-Dawaniqi. Kemungkinan lainnya bahwa Askar adalah sebutan untuk Aisyah dan seluruh pasukan Jamal dimana unta Aisyah bernama Askar. Dalam riwayat lain disebut bahwa unta tersebut adalah setan.

Berikut ini scan kitab penyesat itu:


Sumber: Lppi Makassar
Read More...