Blog Siapa Syiah, mengungkap siapa syiah sebenarnya

Syi'ah dan Shalat Tarawih

Syi'ah dan Shalat Tarawih
Salah seorang Syi’ah Raafidlah berkata :
“Bagi Syiah shalat tarawih berjamaah di malam-malam bulan Ramadhan adalah bid’ah. Dalam sejarah yang telah dibuktikan oleh Syiah, Umar bin Khattab lah yang telah menciptakan bid’ah shalat tarawih berjama’ah tersebut. Karena Rasulullah saw sama sekali tidak pernah mengajarkan kita untuk shalat sunah secara berjama’ah”. [selesai kutipan].

Perkataan yang semisal sudah sangat masyhur di kalangan orang-orang Syii’ah Raafidlah, baik dalam negeri maupun luar negeri[1]. Namun bagi kaum muslimin (Ahlus-Sunnah), perkataan di atas tidaklah ada artinya dan sudah seharusnya diabaikan, karena telah sah beberapa riwayat dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang masyru’-nya shalat tarawih berjama’ah di bulan Ramdlaan.

عَنْ عَائِشَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ، قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ، إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، قَالَ: وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ "
Dari ‘Aaisyah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di masjid pada suatu malam. Lalu shalatlah dengan beliau sekelompok orang, dan orang-orang pun semakin banyak yang ikut shalat bersama beliau. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar shalat bersama mereka. Ketika tiba waktu Shubuh, beliau bersabda : “Sungguh aku telah melihat apa yang kalian lakukan, maka tidaklah menghalangi diriku untuk keluar kecuali karena aku khawatir shalat akan diwajibkan untuk kalian”. Perawi berkata : “Dan yang demikian itu terjadi di bulan Ramadlaan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1129, Muslim no. 761, dan yang lainnya].

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: " صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ، فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ، فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ، فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا، فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ، قَالَ: فَقَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ، قَالَ: فَلَمَّا كَانَتِ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ، فَلَمَّا كَانَتِ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ، فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ، قَالَ: قُلْتُ: وَمَا الْفَلَاحُ؟ قَالَ: السُّحُورُ، ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِقِيَّةَ الشَّهْرِ "
Dari Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadlan. Tidaklah beliau shalat tarawih bersama kami hingga tersisa tujuh hari dari bulan tersebut. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada sepertiga malam (yang pertama). Pada saat malam tersisa enam hari lagi, beliau kembali tidak shalat bersama kami. Ketika malam tersisa lima hari lagi, maka beliau shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada waktu tengah malam. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya kita shalat kembali pada (sisa) malam ini ?”. Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”. Ketika malam tersisa empat hari lagi, beliau tidak shalat bersama kami. Namun ketika malam tinggal tersisa tiga hari, beliau mengumpulkan keluarganya, istri-istrinya, dan orang-orang yang ada; kemudian shalat bersama kami hingga kami khawatir tertinggal waktu falaah. Aku pernah bertanya : ”Apa makna falaah itu ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam menjawab : ”Waktu sahur”. Kemudian beliau kembali tidak shalat bersama kami pada sisa malam di bulan Ramadlan tersebut [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1375, At-Tirmidziy no. 806 dan ia berkata : ‘Hasan shahih’, An-Nasaa’iy no. 1364 & 1605, Ibnu Maajah no. 1327, dan yang lainnya; shahih].

Kembali ke Syi’ah.....
Kali ini saya akan ajak Pembaca budiman jalan-jalan membaca kitab-kitab Syi’ah yang berkaitan dengan shalat tarawih. Setelah dipilih-pilih, mari kita cek hasilnya :
عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ يُونُسَ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ الْبَقْبَاقِ وَ عُبَيْدِ بْنِ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) يَزِيدُ فِي صَلَاتِهِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِذَا صَلَّى الْعَتَمَةَ صَلَّى بَعْدَهَا فَيَقُومُ النَّاسُ خَلْفَهُ فَيَدْخُلُ وَ يَدَعُهُمْ ثُمَّ يَخْرُجُ أَيْضاً فَيَجِيئُونَ وَ يَقُومُونَ خَلْفَهُ فَيَدَعُهُمْ وَ يَدْخُلُ مِرَاراً قَالَ وَ قَالَ لَا تُصَلِّ بَعْدَ الْعَتَمَةِ فِي غَيْرِ شَهْرِ رَمَضَانَ
‘Aliy bin Ibraahiim, dari Muhammad bin ‘Iisaa bin ‘Ubaid, dari Yuunus, dari Abul-‘Abbaas Al-Baqbaaq dan ‘Ubaid bin Zuraarah, dari Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam), ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi menambahkan shalatnya pada bulan Ramadlaan, yaitu apabila beliau shalat ‘atamah (‘isyaa’), beliau melakukan shalat setelahnya. Lalu orang-orang berdiri bermakmum di belakang beliau. Lalu beliau masuk dan membiarkan mereka. Lalu beliau keluar, dan mereka kembali datang dan berdiri makmum di belakang beliau. Lalu beliau membiarkan mereka dan masuk ke rumah beliau beberapa kali. Abu ‘Abdillah berkata : Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) bersabda : “Janganlah kalian shalat setelah ‘atamah selain pada bulan Ramadlaan” [Diriwayatkan oleh Al-Kulainiy dalam Al-Kaafiy, 4/154-155. Al-Majlisiy (16/378) berkata : “Shahih”].

Riwayat ini mirip-mirip dengan riwayat kaum muslimin (Ahlus-Sunnah) yang dibawakan sebelumnya. Tidak ada keterangan tegas dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat orang Syi’ah ini larangan shalat tarawih berjama’ah di bulan Ramadlaan. Kita lanjut…..

وسألته عن قيام شهر رمضان هل يصلح ؟ قال :  لا يصلح إلا بقراءة ، تبدأ فتقرأ فاتحة الكتاب ، ثم تنصت لقراءة الامام ، فإذا أراد الركوع قرأت ( قل هو الله أحد ) وغيرها ، ثم ركعت أنت إذا ركع ، فكبر أنت في ركوعك وسجودك كما تفعل إذا صليت وحدك ، وصلاتك وحدك أفضل
Dan aku (‘Aliy bin Ja’far) pernah bertanya kepadanya (Muusaa bin Ja’far) tentang shalat (taraawih) di bulan Ramadlaan, apakah ia baik ?. Ia menjawab : “Tidak baik, kecuali dengan qira’at. Engkau mulai dengan membaca Al-Faatihah, kemudian engkau diam karena qira’at imam. Jika engkau hendak rukuk, bacalah Qul-huwallaahu ahad dan selainnya. Lalu engkau rukuk. Jika engkau rukuk, bertakbirlah dalam rukukmu dan sujudmu sebagaimana yang engkau lakukan apabila engkau shalat seorang diri. Namun shalatmu seorang diri (munfarid) lebih utama” [Masaail ‘Aliy bin Ja’far yang tercetak dalam Al-Bihaar, hal. 253 – baca sumbernya di : http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/behar85/109.htm].

Konteks shalat yang ditanyakan adalah shalat tarawih. Muusaa bin Ja’far atau Muusaa Al-Kaadhim (imam Syi’ah ke-7) membolehkan shalat taraawih berjama’ah, hanya saja ia berpendapat bahwa afdlal-nya shalat sendirian.

 احمد بن محمد عن علي بن الحكم عن ابان عن عبدالرحمن بن ابي عبدالله عن ابي عبدالله عليه السلام قال: صل بأهلك في رمضان الفريضة والنافلة فاني أفعله
Ahmad bin Muhammad, dari ‘Aliy bin Al-Hakam, dari Abaan, dari ‘Abdurrahmaan bin Abi ‘Abdillah, dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam, ia berkata : “Shalatlah (berjama’ah) bersama keluargamu di bulan Ramadlan, baik shalat wajib maupun sunnah, karena aku melakukannya” [At-Tahdziib, 3/267-268 no. 762 – lihat sumbernya di sini. Katanya, riwayat ini shahih[2]].

Abu ‘Abdillah ternyata menyuruh shalat wajib dan sunnat secara berjama’ah di bulan Ramadlan, karena ia sendiri melakukannya. Shalat sunnah apa lagi yang masyhur dilakukan khusus bulan Ramadlaan selain shalat taraawih ?.

Melihat tiga riwayat di atas – bahkan jumlahnya lebih banyak lagi - , kita menjadi bertanya-tanya, apakah para imam Syi’ah yang membolehkan shalat tarawih mengikuti jejak ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu ?. Jika benar, lalu para ulama Syi’ah dan pengikutnya itu mengikuti siapa ?. ‘Abdullah bin Saba’ ?. Apakah ulama Syi’ah dan pengikutnya itu tidak membaca riwayat-riwayat di atas ? Entahlah…..
Semoga informasi ini ada manfaatnya.

Wallaahul-musta’aan.

[abul-jauzaa’ - perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor - 23081434/02072013 – 23:07].


-----------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Terutama sekali karena kebencian mereka terhadap ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu. Segala sesuatu yang ‘berbau’ ‘Umar, mereka hindari dan buang.
Perlu diperhatikan :
Dalam referensi kaum muslimin (Ahlus-Sunnah) disebutkan adanya perbedaan pendapat mana yang lebih afdlal masyru’-nya shalat taraawih di rumah dan di masjid, atau perbedaan pendapat hukum shalat taraawih berjama’ah. Syi’ah sering mendompleng perbedaan pendapat ini untuk membela pendapatnya, terutama dalam menyalahkan ‘Umar yang dikatakan membuat-buat syari’at shalat tarawih berjama’ah.
Meskipun kaum muslimin berbeda pendapat dalam masalah yang disebutkan, namun mereka tidak pernah mendiskreditkan ‘Umar dan mengatakan ia lah yang membuat-buat syari’at shalat tarawih berjama’ah. Perbedaan pendapat mereka hanyalah dari sisi pandang pengambilan hukum dari perbuatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang pernah shalat tarawih berjama’ah (di masjid) bersama manusia, lalu beliau hentikan, dan kemudian dihidupkan kembali oleh ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu di jaman kekhalifahannya. Adapun Syi’ah Raafidlah, mereka menganggap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya dan ‘Umar lah yang membuat-buat ibadah tersebut – selain karena memang resistensi mereka terhadap ‘Umar sebagaimana telah dimaklumi.
[2] Dalam kitab Al-Hadaaiqun-Naadlirah karya Yuusuf Al-Bahraaniy 11/84 disebutkan pentashhihan riwayat tersebut sebagai berikut :
ما رواه الشيخ في الصحيح عن عبد الرحمان بن ابى عبد الله عن ابى عبد الله (عليه السلام) (3) انه قال له: " صل باهلك في رمضان الفريضة والنافلة فانى افعله " وفى الصحيح عن هشام بن سالم
“Apa yang diriwayatkan Asy-Syaikh dalam Ash-Shahiih dari ‘Abdurrahmaan bin Abi ‘Abdillah…..dst.”.

Read More...

Inilah Fatwa “Gila”: Wanita Bersuami Boleh Nikah Mut’ah dengan Lelaki Lain dan Dijanjikan Pahala

nikah mutah, hukum nikah mutah
Tentang nikah mut’ah (kawin kontrak yang telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih riwayat Muslim) oleh aliran sesat syiah ada fatwa yg lebih “berani” dan “gila” yaitu fatwa Shk. Mohsin Al Asfor dalam twitternya, dia bilang:


Bagi perempuan yang bersuami boleh bermut’ah (kawin kontrak dengan lelaki lain) tanpa izin suaminya, dan jika izin dari suaminya, persentase ganjaran lebih sedikit, dengan syarat wajibnya niat bahwasanya ikhlas untuk wajah Allah. Fatawa (12/ 432)

Itulah fatwa dari SH MOHSIN AL ASFOR

Seorang Ulama (syiah) dan peneliti Islam, kepala penelitian ilmiah di Bahrain dan seorang profesor di kompleks seminari (hauzah) dan anggota asosiasi dari kelompok Ahl al-Bayt, Bahrain

PELACURAN DENGAN NAMA NIKAH MUT’AH ITU MENERUSKAN AJARAN NABI PALSU MAJUSI MAZDAK

Agama syiah, dalam hal nikah mut’ah pada dasarnya adalah meneruskan kebejatan ajaran nabi palsu Majusi bernama Mazdak yang menghalalkan wanita dan harta sebagai milik bersama, ibarat rumput dan air ; siapa saja boleh mengambil, dan siapa saja boleh memakai. (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, NABI-NABI PALSU DAN PARA PENYESAT UMAT, Pustaka Al-Kautsar, Jakata).

Dari sini dapat difahami, agama syiah pada hakekatnya adalah keyakinan Majusi berbaju Islam.

Dan dari situlah dapat dibantah perkataan dedengkot syiah yang berkilah bahwa syiah tidak sesat karena boleh berhaji dan masuk Masjid Haram Makkah.

Bantahannya adalah : bolehnya orang syiah masuk Masjidil Haram bukan karena tidak sesat, tetapi hanya karena syiah itu covernya adalah Islam. Sebagaimana dedengkot munafiq Abdullah bin Ubay bin Salul zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh masuk ke Masjid Haram (Nabawi) di Madinah bahkan shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena covernya adalah Islam, walau isinya adalah kafir.

Itu bukan karena orang munafiq itu tidak sesat, bahkan sesat lagi kafir, namun covernya adalah Islam. Demikian pula syiah, sesat lagi kafir karena isinya adalah keyakinan Majusi namun covernya adalah Islam.

(nahimunkar.com)
Read More...

‘Abdullah bin Saba’ – Tokoh Nyata yang Difiktifkan

siapa abdullah bin saba
Banyak sudah ulama dan referensi Ahlus-Sunnah yang menyebutkan sosok ‘Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh Yahudi pembuat agama Syi’ah. Namun bagi orang Syi’ah sendiri – terutama golongan kontemporer – saling berlomba untuk memberikan bantahan tentang hal itu. Mereka mengklaim Ahlus-Sunnah telah mereka-reka tokoh ini karena permusuhan mereka terhadap Syi’ah. Banyak sudah tulisan mereka sebar, dan tidak sedikit kaum muslimin yang bodoh tertipu dengan segala bualan mereka. Mereka (kaum muslimin yang bodoh dan tertipu) itu tidak tahu bahwa sebenarnya tokoh ‘Abdullah bin Saba’ bukanlah tokoh fiktif, bukan pula hasil rekayasa Ahlus-Sunnah.

Oleh karena itu, di sini sedikit akan saya tulis beberapa keterangan mengenai ‘Abdullah bin Saba’ dari buku-buku induk referensi Syi’ah. Biar tidak terlalu berbusa-busa dalam bermuqaddimah, langsung saja saya tuliskan :

1. Dari Abu Ja’far ‘alaihis-salaam, ia berkata :
إن عبد الله بن سبأ كان يدعي النبوة، ويزعم أن أمير المؤمنين هو الله - تعالى عن ذلك - فبلغ ذلك أمير المؤمنين عليه السلام فدعاه وسأله فأقر بذلك وقال : نعم أنت هو، وقد كان قد ألقي في ورعي أنك أنت الله وأني نبي، فقال أمير المؤمنين عليه السلام : ويلك قد سخر منك الشيطان، فارجع عن هذا ثكلتك أمك وتب، فأبى، فحبسه، واستتابه ثلاثة أيام، فلم يتب، فأحرقه بالنار، وقال : أن الشيطان استهواه، فكان يأتيه ويلقي في روعه ذلك.
“Sesungguhnya ‘Abdullah bin Saba’ mendakwakan nubuwwah dan mengatakan Amiirul-Mukminiin (‘Aliy bin Abi Thaalib) adalah Allah – Maha Tinggi Allah atas tuduhan itu - . Khabar itu pun sampai kepada Amiirul-Mukminiin. Beliau memanggilnya dan mengkonfirmasikannya. Ia (‘Abdulah bin Saba’) berkata : ‘Benar, engkau adalah Allah. Telah dibisikkan ke dalam hatiku bahwa engkau adalah Allah dan aku adalah nabi’. Amiirul-Mukminiin ‘alaihis-salaam berkata : ‘Celaka kamu, syaithan telah menundukkanmu’. Rujuklah dari perkataanmu, ibumu pasti binasa, dan bertaubatlah !’. Ia menolak (untuk bertaubat), lalu ia dipenjara dan diminta untuk bertaubat dalam waktu tiga hari. Namun ia tidak mau bertaubat juga, sehingga (dijatuhi hukuman) dibakar dengan api. Amiirul-Mukminiin berkata : ‘Syaithan telah menguasai dirinya. Ia datang kepadanya (Ibnu Saba’) dan membisikkan ke dalam hatinya hal tersebut”.

Dari Abu ‘Abdillah, bahwasannya ia berkata :
لعن الله عبد الله بن سبأ، إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين عليه السلام، وكان والله أمير المؤمنين عليه السلام عبدًا لله طائعًا، الويل لمن كذب علينا، وإن قومًا يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا نبرأ إلى الله منهم، نبرأ إلى الله منهم.
“Allah melaknat ‘Abdullah bin Saba’. Sesungguhnya ia mendakwakan Rububiyyah kepada Amiirul-Mukminiin ‘alaihis-salaam, sedangkan Amiirul-Mukminiin – demi Allah – hanyalah seorang hamba yang mentaati Allah. Neraka Wail adalah balasan bagi siapa saja yang berdusta atas nama kami. Sesungguhnya telah ada satu kaum berkata-kata tentang kami sesuatu yang kami tidak mengatakannya. Kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu, kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu”. [Ma’rifatu Akhbaarir-Rijaal oleh Al-Kasysyiy, hal. 70-71].
Kitab Rijaalul-Kasysyiy ini termasuk kitab Syi’ah yang pertama dan diakui dalam ilmu rijaal.

2. Al-Maamiqaaniy berkata :
عبد الله بن سبأ الذي رجع إلى الكفر وأظهر الغلو.
“Abdullah bin Saba’ yang dikembalikan kepadanya kekufuran dan sikap berlebih-lebihan yang sangat terang”.

Lalu ia berkata :
غالٍ ملعون، حرقه أمير المؤمنين عليه السلام بالنار، وكان يزعم أن علياً إله، وأنه نبي.
“Orang yang berlebih-lebihan lagi terlaknat. Amiirul-Mukminiin telah membakarnya dengan api. Ia mengatakan bahwa ‘Aliy adalah Tuhan, dan ia adalah nabi”.
[Tanqiihul-Maqaal fii ‘Ilmir-Rijaal, 2/183-184].
Al-Maamiqaaniy merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah dalam ilmu rijaal.

3. An-Naubakhtiy berkata :
السبئية قالوا بإمامة علي، وأنها فرض من الله عز وجل وهم أصحاب عبد الله بن سبأ، وكان ممن أظهر الطعن على أبي بكر، وعمر، وعثمان، والصحابة، وقال : (إن عليا عليه السلام أمره بذلك) فأخذه علي فسأله عن قوله هذا، فأقر به، فأمر بقتله، فصاح الناس إليه : يا أمير المؤمنين ! أتقتل رجلاً يدعوا إلى حبكم أهل البيت، وإلى ولايتك والبراءة من أعدائك ؟ فصيره إلى المدائن.
وحكى جماعة من أهل العلم أن عبد الله بن سبأ كان يهوديًا فأسلم ووالى عليًا وكان يقول وهو على يهوديته في يوشع بن نون بعد موسى عليه السلام بهذه المقالة، فقال في إسلامه في علي بن أبي طالب بمثل ذلك، وهو أول من شهر القول بفرض إمامة علي عليه السلام وأظهر البراءة من أعدائه....فمن هڽا قال من خالف الشيعة : إن أصل الرفض مأخوذ من اليهودية.
“Kelompok Saba’iyyah mengatakan keimamahan ‘Aliy dan hal itu merupakan satu kewajiban dari Allah ‘azza wa jalla. Mereka adalah pengikut ‘Abdullah bin Saba’. Mereka adalah orang-orang yang menampakkan pencelaan terhadap Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan para shahabat. Ia (Ibnu Saba’) berkata : ‘Sesungguhnya ‘Aliy memerintahkannya’. Maka ‘Aliy menangkapnya dan mengkonfirmasi atas perkataannya tersebut, dan ia pun mengakuinya. Lalu ‘Aliy memerintahkan untuk membunuhnya. Orang-orang berteriak : ‘Wahai Amiirul-Mukminiin, apakah engkau akan membunuh orang yang menyerukan mencintai Ahlul-Bait, kepemimpinanmu, dan berlepas diri dari musuh-musuhmu ?’. Maka ‘Aliy mengasingkannya ke daerah Madaain.

Diriwayatkan oleh sekelompok ahli ilmu (ulama) bahwasannya ‘Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang masuk Islam, lalu memberikan loyalitas kepada ‘Aliy. Saat masih dalam agama Yahudi, ia pernah berkata tentang Yusya’ bin Nuun sepeninggal Musa ‘alaihis-salaam perkataan seperti ini. Lantas setelah masuk Islam, ia berkata tentang ‘Aliy seperti apa yang dikatakannya kepada Yusya’ bin Nuun. Ia adalah orang yang pertama kali mengumumkan pendapat wajibnya keimamahan ‘Aliy ‘alaihis-salaam dan menampakkan berlepas diri terhadap musuh-musuhnya…. Dari sinilah asal perkataan orang-orang yang menyelisihi Syi’ah (baca : Ahlus-Sunnah) : ‘Sesungguhnya dasar Rafidlah diambil dari paham Yahudi” [Firaqusy-Syii’ah, hal. 32-44].

An-Naubakhtiy ini menurut penilaian orang Syi’ah adalah seorang yang tsiqah lagi diakui [lihat Jaami’ur-Ruwaat oleh Al-Ardabiiliy 1/228 dan Al-Kunaa wal-Alqaab oleh ‘Abbaas Al-Qummiy 1/148].

4. Sa’d bin ‘Abdillah Al-Asy’ariy Al-Qummiy berkata saat memaparkan kelompok Saba’iyyah :
السبئية أصحاب عبد الله بن سبأ، وهو عبد الله بن وهب الراسبي الهمداني، وساعده على ذلك عبد الله بن خرسي، وابن أسود، وهما من أجل أصحابه، وكان أول من أظهر الطعن على أبي بكر، وعمر، وعثمان، والصحابة وتبرأ منهم.
“Kelompok Saba’iyyah adalah pengikut ‘Abdullah bin Saba’. Ia adalah ‘Abdullah bin Wahb Ar-Raasibiy Al-Hamdaaniy. Para pembantunya adalah ‘Abdullah bin Khurasiy dan Ibnu Aswad. Mereka berdua termasuk orang terkemuka dari kalangan pengikutnya. Ibnu Saba’ adalah orang yang pertama kali menampakkan celaan terhadap Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan para shahabat, serta berlepas diri dari mereka semuanya”. [Al-Maqaalaatu wal-Firaq, hal. 20].

Al-Qummiy ini menurut penilaian orang Syi’ah termasuk orang yang tsiqah yang luas pengetahuannya tentang khabar/riwayat [lihat Jaami’ur-Ruwaat, 1/352].

5. Ibnu Abil-Hadiid menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Saba’ pernah berdiri ketika ‘Aliy bin Abi Thaalib sedang berkhutbah. Lalu ia (Ibnu Saba’) berkata :
أنت أنت، وجعل يكررها، فقال له - علي - : ويلك من أنا، فقال : أنت الله، فأمر بأخذه وأخذ قوم كانوا معه على رأيه.
“Engkau, engkau’. Ia (Ibnu Saba’) mengulang-ulang perkataan itu. Maka ‘Aliy berkata kepadanya : “Celaka kamu, siapakah diriku ?”. Ibnu Saba’ menjawab : “Engkau adalah Allah”. ‘Aliy pun memerintahkan untuk menangkapnya dan orang-orang yang sependapat dengannya”. [Syarh Nahjil-Balaaghah, 5/5].

Kitab Syarh Nahjil-Balaghah karya Ibnu ‘Abdil-Hadiid salah satu kitab besar dan paling utama dalam syarah terhadap Nahjul-Balaaghah yang sering dijadikan rujukan kaum Syi’ah. Namun seringkali didapati saat Ahlus-Sunnah mengutip sebagian isi dari kitab ini yang ‘merugikan’ mereka, orang-orang Syi’ah membantah bahwa Ibnu ‘Abdil-Hadiid adalah orang Sunniy (berpaham Mu’tazillah), bukan Syii’iy. Tentu saja dalih mereka sangat lemah, karena beberapa kitab biografi Syi’ah sendiri menyebutkan bahwa Ibnu ‘Abdil-Hadiid adalah termasukorang yang ber-tasyayyu’ kepada ‘Aliy/Ahlul-Bait.

6. As-Sayyid Ni’matullah Al-Jazaairiy berkata :
قال عبد الله بن سبأ لعلي عليه السلام : أنت الإله حقًَا، فنفاه علي عليه السلام إلى المدائن، وقيل : إنه كان يهوديًا فأسلم، وكان في اليهودية يقول في يوشع بن نون وفي موسى مثل ما قال في علي.
“’Abdullah bin Saba’ berkata kepada ‘Aliy ‘alaihis-salaam : ‘Engkau adalah tuhan yang sebenar-benarnya’. Maka ‘Aliy mengasingkannya ke daerah Madaain. Dan dikatakan : ‘Sesungguhnya ia dulu seorang Yahudi lalu masuk islam. Saat masih beragama Yahudi ia pernah berkata terhadap Yusyaa’ bin Nuun dan Muusaa semisal apa yang dikatakannya kepada ‘Aliy”. [Anwaarun-Nu’maaniyyah, 2/234].

Ni’matullah Al-Jazaairiy dikenal sebagai seorang muhaddits dan ulama besar yang diakui keilmuannya oleh kalangan Syi’ah [lihat Al-Kunaa wal-Alqaab, 3/298 dan Safiinatul-Bihaar 2/601].

Keberadaan sosok ‘Abdullah bin Saba’ adalah sesuatu yang telah disepakati oleh Ahlus-Sunnah dan Syi’ah (mutaqaddimiin). Dan inilah pernyataan tokoh Syi’ah kontemporer yang bernama Muhammad Husain Az-Zain :
وعلى كل حال فإن الرجل - أي: ابن سبأ - كان في عالم الوجود، وأظهر الغلو، وإن شك بعضهم في وجوده وجعله شخصاً خيالياً.. أما نحن - بحسب الاستقراء الأخير - فلا نشك بوجوده وغلوه
“Maka, sesungguhnya sosok laki-laki ini – yaitu Ibnu Saba’ – diketahui benar adanya dan menampakkan sikap berlebih-lebihan (ghulluw). Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka (orang-orang Syi’ah) ragu-ragu akan keberadaannya sehingga menjadikannya sebagai sosok khayalan…..Adapun kami, sesuai penelitian termuktakhir, tidak ragu akan keberadaannya dan sikap berlebih-lebihannya” [Asy-Syii’ah wat-Taariikh, hal. 213].

Dari sini kita dapatkan beberapa point sebagai berikut :
1. ‘Abdullah bin Saba’ bukanlah tokoh/sosok khayalan sebagaimana klaim orang-orang Syi’ah belakangan yang mulai resah tentang agamanya.
2. ‘Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang kemudian (berpura-pura) masuk Islam untuk merusaknya.
3. Paham keimamahan ‘Aliy, pencelaan terhadap Al-Khulafaaur-Raasyidin (kecuali ‘Aliy) dan para shahabat berasal darinya.
4. ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu berlepas diri dari paham Saba’iyyah yang dicetuskan oleh ‘Abdullah bin Saba’.
Masih tidak yakinkah kita bahwa ajaran Syi’ah yang ada sekarang ini merupakan buah ajaran firqah Saba’iyyah ?

Semoga ada manfaatnya…….

Sumber: Ust. Abul Jauzaa
Read More...

Ulama Syiah: Kemaluan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Akan Masuk Neraka

kemaluan nabi didalam neraka
Berangkat dari ketidakpuasan akan terpilihnya Abu Bakar radhiyallahu anhu, Syiah Imamiyah membangun keyakinan berbeda tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. hal ini semakin memperjelas bahwa manusia yang paling maksum menurut Syiah Imamiyah adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dianggap kalah kelas karena melakukan kesalahan, yakni menikahi Aisyah radhiyallahu anha dan Hafshah radhiyallahu anha (mana penghormatanmu kepada Nabi wahai Syiah Imamiyah?)

إن النبي صلى الله عليه وأله لا بد أن يدخل فرجه في النار، لأنه وطئ بعض المشركات، يريد بذلك زواجه من عائشة وحفصة.
“Pastilah kemaluan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk neraka. Sebab, beliau menggauli sejumlah wanita musyrik. Yang dimaksud adalah pernikahannya dengan AIsyah dan Hafshah.” (Kasyful Asrar, Al-Musawi (Lillahi Tsummah Li At-Tarikh), hal 24, yang dikutip dari salah satu ulama Syiah Imamiyyah Sayyid Ali Al-Gharawi, terbitan Maktabah Al-Furqan, Uni Emirat Arab)

Riwayat pelecehan terdahsyat ini menghadirkan bentuk ajaran Syiah Imamiyah yang sesungguhnya. Dan inilah bukti nyata atas tuduhan-tuduhan mereka terhadap ayahanda fathimah Az-Zahra. Tega-teganya mereka melecehkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya karena beliau menikahi Aisyah radhiyallahu anha yang tidak lain adalah putri Abu Bakar radhiyallahu anhu dan Hahshah radhiyallahu anha yang merupakan putrid Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Oleh: Mahbub Yafa Ibrahim, Ketawa Merinding Ala Syiah, hal 8-9.
Read More...

Teka-Teki Pembunuh Al-Husain bin ‘Ali radliyallaahu ‘anhumaa Akhirnya Terjawab

siapa yang membunuh husain
Mayoritas orang Syi’ah masa sekarang mengatakan bahwa yang membunuh Al-Husain bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa adalah Yaziid bin Mu’aawiyyah rahimahullah. Dialah yang memerintahkan untuk membunuh Al-Husain radliyallaahu ‘anhu. Itulah khabar yang beredar dari mulut ke mulut, dari dulu hingga sekarang, dan akhirnya masuk ke telinga orang yang paling bodoh di kalangan mereka. Dogma pun muncul : Orang-orang Syaam/Bani Umayyah adalah pembunuh Al-Husain, sehingga pantas menjadi musuh Ahlul-Bait. Bani Umayyah = Ahlus-Sunnah = Wahabiy. Meski telah menjadi dogma, ternyata keliru. Bukan orang Syaam yang menjadi pembunuh Al-Husain radliyallaahu ‘anhu. Lalu, siapakah yang membunuh Al-Husain ?. Berikut perkataan Ahlul-Bait dan para ulama Syi’ah yang ada dalam kitab-kitab mereka :

‘Aliy bin Al-Husain bin 'Aliy bin Abi Thaalib rahimahullah

‘Aliy bin Al-Husain bin Abi Thaalib berkata saat mengecam pengkhianatan para pengikutnya yang membunuh Al-Husain radliyallaahu ‘anhu :

أيها الناس نشدتكم بالله هل تعلمون أنكم كتبتم إلى أبي وخدعتموه، وأعطيتموه العهد والـميثاق والبيعة وقاتلتموه وخذلتموه، فتبا لـما قدمتم لأنفسكم، وسوأة لرأيكم، بأية عين تنظرون إلى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذ يقول لكم قتلتم عترتي وانتهكتم حرمتي فلستم من أمتي.

فارتفعت أصوات النساء بالبكاء من كل ناحية، وقال بعضهم لبعض هلكتم وما تعلمون
“Wahai sekalian manusia, kami bersumpah dengan menyebut nama Allah kepada kalian untuk bertanya, apakah kalian tahu bahwa kalian dulu pernah menulis kepada ayahku (Al-Husain) lalu kalian ternyata menipunya ?. Kalian dulu berjanji memberikan kesetiaan dan baiat, namun ternyata kemudian kalian malah memeranginya dan meninggalkannya ?. Sungguh celaka apa yang telah kalian lakukan pada diri kalian. Sungguh jelek pikiran kalian. Dengan mata yang mana kalian akan melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam kelak ketika beliau bersabda kepada kalian : ‘Kalian telah membunuh keturunanku dan menodai kehormatanku. Kalian bukanlah termasuk umatku’”.

Maka bergemuruhlah suara para wanita yang menangis di segala penjuru. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain : ‘Binasalah kalian dan apa yang kalian ketahui”.

‘Aliy bin Al-Husain ‘alaihis-salaam berkata :
رحم الله امرءا قبل نصيحتي، وحفظ وصيتي في الله ورسوله وأهل بيته فإن لنا في رسول الله أسوة حسنة....
فقالوا بأجمعهم: نحن كلنا سامعون مطيعون حافظون لذمامك غير زاهدين فيك ولا راغبين عنك، فمرنا بأمرك يرحمك الله، فإنا حرب لحربك، وسلم لسلمك، لنأخذن يزيد ونبرأ ممن ظلمك وظلمنا،،
“Semoga Allah merahmati seseorang yang menerima nasihatku, menjaga wasiatku yang berkaitan dengan Allah, Rasul-Nya, dan Ahlul-Baitnya. Sesungguhnya kami dalam diri Rasulullah adalah suri tauladan yang baik...”. Mereka semua berkata : “Kami semua akan mendengar, mentaati, dan menjaga kehormatanmu tanpa meninggalkanmu dan berpaling darimu. Maka, perintahkanlah kami, semoga Allah merahmatimu. Dan kami akan berperang karena peperanganmu, dan kami pun akan berdamai karena perdamaianmu. Kami benar-benar akan membawa Yaziid, dan berlepas diri dari orang yang mendhalimimu dan mendhalimi kami…”.

‘Aliy bin Al-Husain ‘alaihis-salaam berkata :
هيهات هيهات أيها الغدرة الـمكرة حيل بينكم وبين شهوات أنفسكم، أتريدون أن تأتوا إلي كما أتيتم آبائي من قبل؟ كلا ورب الراقصات فإن الجرح لـما يندمل، قتل أبي بالأمس وأهل بيته معه، ولم ينسني ثكل رسول الله صلى الله عليه وسلم وآله وثكل أبي وبني أبي ووجده بين لهاتي ومرارته بين حناجري وحلقي وغصته تجري في فراش صدري
“Betapa jauh, betapa jauh wahai para pengkhianat lagi penipu. Kalian hanyalah mementingkan syahwat diri kalian saja. Apakah kalian akan datang kepadaku sebagaimana dulu kalian datang pada ayah-ayahku (lantas kalian berkhianat) ?. Sekali-kali tidak, demi Allah yang menciptakan onta-onta. Sesungguhnya luka lama belumlah kering. Ayahku dan keluarganya baru terbunuh kemarin. Dan aku belumlah lupa kematian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi. Begitu juga kematian ayahku dan anak-anak ayahku. Peristiwa itu masih ada dalam ingatanku. Rasa pahit masih terasa di tenggorokanku dan kerongkonganku. Kesedihan itu masih bergemuruh dalam dadaku” [Khuthbah ini disebutkan oleh Ath-Thibrisiy dalam Al-Ihtijaaj 2/32, Ibnu Thaawuus dalam Al-Majhuuf hal. 92, Al-Amiin dalam Lawaa’ijul-Asyjaan hal. 158, ‘Abbaas Al-Qummiy dalam Muntahal-Aamaal 1/572, Husain Kuuraaniy dalam Rihaab Karbalaa’ hal. 183, ‘Abdurrazzaaq Al-Muqrim dalam Maqtal Al-Husain hal. 317, Murtadlaa ‘Ayyaad dalam Maqtal Al-Husain hal. 87 dan diulang oleh ‘Abbaas Al-Qummiy dalam Nafsul-Mahmuum hal. 360. Disebutkan juga oleh Ridlaa Al-Qazwiiniy dalam Tudhlamuz-Zahraa’ hal. 262].

Ketika Al-Imaam Zainul-‘Aabidiin radliyallaahu ‘anhu berjalan dan melihat penduduk Kuufah sedang meratap dan menangis, maka ia mencelanya dan berkata :

تنوحون وتبكون من أجلنا فمن الذي قتلنا؟
“Kalian ini meratap dan menangis karena kami. Memangnya siapa yang membunuh kami ?” [Al-Malhuuf hal. 86, Nafsul-Mahmuum hal. 357, Maqtal Al-Husain oleh Murtadlaa ‘Abbaas hal. 83 Cet. 4/1996 M, dan Tudhlamuz-Zahraa’ hal. 257].


Ummu Kultsum bintu ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhaa

Ia berkata :
يا أهل الكوفة سوأة لكم، ما لكم خذلتم حسينا وقتلتموه، وانتهبتم أمواله وورثتموه، وسبيتم نساءه، ونكبتموه، فتبا لكم وسحقا لكم، أي دواه دهتكم، وأي وزر على ظهوركم حملتم، وأي دماء سفكتموها، وأي كريمة أصبتموها، وأي صبية سلبتموها، وأي أموال انتهبتموها، قتلتم خير رجالات بعد النبي صلى الله عليه وآله، ونزعت الرحمة من قلوبكم
“Wahai penduduk Kuufah, betapa jeleknya kalian. Kenapa kalian meninggalkan Husain lalu kalian membunuhnya ?. Kalian rampas harta-hartanya lalu mewarisinya, menawan wanita-wanitanya dan menyusahkannya ?. Sungguh celaka kalian, dan semoga kalian jauh dari rahmat Allah !. Musibah apa yang menimpa kalian, dosa apa yang kalian pikul di punggung kalian, darah siapa yang telah kalian alirkan, istri siapa yang telah kalian tawan, anak perempuan siapa yang telah kalian rampok, dan harta-harta siapakah yang telah kalian rampas ?. Kalian telah membunuh sebaik-baik laki-laki setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi. Rasa kasih sayang telah dicabut dari hati-hati kalian” [Al-Malhuuf hal. 91, Nafsul-Mahmuum hal. 363, Maqtal Al-Husain oleh Al-Muqrim hal. 316, Lawaa’ijul-Asyjaan hal. 157, Maqtal Al-Husain oleh Murtadlaa ‘Iyaadl hal. 86, dan Tudhlamuz-Zahraa’ oleh Ridlaa bin Nabiy Al-Qazwiiniy hal. 261].


Zainab bintu ‘Aliy radliyallaahu ‘anhaa

Ia berkata :
صه يا أهل الكوفة تقتلنا رجالكم وتبكينا نساؤكم فالحاكم بيننا وبينكم الله يوم فصل القضاء
“Diamlah wahai penduduk Kuufah !! Laki-laki kalian telah membunuh kami, sedangkan para wanita kalian menangisi kami. Antara kami dan kalian adalah Allah pada hari penghakiman (hari kiamat)” [Dinukil oleh ‘Abbaas Al-Qummiy dalam Nafsul-Mahmuum hal. 365. Disebutkan juga oleh Asy-Syaikh Ridlaa bin Nabiy Al-Qazwiiniy dalam Tudhlamuz-Zahraa’ hal. 264].


Murtadlaa Al-Muthahhariy

Ia berkata :
ولا ريب في أن الكوفة كانوا من شيعة علي وأن الذين قتلوا الإمام الحسين هم شيعته
“Dan tidak ragu lagi bahwa penduduk Kuufah merupakan syi’ah (pendukung) ‘Aliy, dan yang membunuh Al-Imaam Al-Husain adalah syi’ah (pendukung)-nya sendiri” [Malhamatul-Husainiyyah, 1/129].

فنحن سبق أن أثبتنا أن هذه القصة مهمة من هذه الناحية وقلنا أيضا: بأن مقتل الحسين على يد الـمسلمين بل على يد الشيعة بعد مضي خمسين عاما فقط على وفاة النبي لأمر محير ولغز عجيب وملفت للغاية
“Dan kami mendahului dalam menetapkan bahwa kisah ini penting dari sisi ini. Dan kami juga berkata : Bahwasannya pembunuhan Al-Husain adalah di tangan kaum muslimin, bahkan di tangan Syi’ah sendiri setelah berlalu 50 tahun pasca wafatnya Nabi. Sungguh, ini adalah perkara yang membingungkan, teka-teki yang mengherankan, dan menarik perhatian” [idem, 3/94].

Abul-Jauzaa’ berkata :
Ya,… penduduk Kuufah adalah yang mengkhianati dan sekaligus membunuh Al-Husain bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa. Tidaklah mengherankan, karena sebelumnya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu telah mengingatkan akan sifat khianat dan lancung para syi’ah-nya dari penduduk Kuufah ini dengan perkataannya :

ولقد أصبحت الأمم تخاف ظلم رعاتها، وأصبحت أخاف ظلم رعيتي. استنفرتكم للجهاد فلم تنفروا، وأسمعتكم فلم تسمعوا، ودعوتكم سرا وجهرا فلم تستجيبوا، ونصحت لكم فلم تقبلوا
………………
يا أهل الكوفة، منيت منكم بثلاث واثنتين: صم ذوو أسماع، وبكم ذوو كلام، وعمي ذوو أبصار، لا أحرار صدق عند اللقاء، ولا إخوان ثقة عند البلاء! تربت أيديكم يا أشباه الابل غاب عنها رعاتها! كلما جمعت من جانب تفرقت من آخر

“Sungguh, umat-umat terdahulu khawatir akan kedhaliman pemimpinnya, akan tetapi aku malah khawatir akan kedhaliman rakyatku. Aku ajak kalian berangkat berjihad , namun kalian enggan berangkat. Aku ingin bicara pada kalian, namun kalian tidak mau mendengarnya. Aku ajak kalian untuk kebaikan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, namun kalian tidak menyambutnya. Aku nasihati kalian, namun kalian tidak menerimanya.

……..
Wahai penduduk Kuufah, aku diuji (Allah) dari kalian dalam 3 perkara dan 2 perkara : (kalian) tuli tapi punya pendengaran, bisu tapi punya perkataan, dan buta tapi punya penglihatan. Juga tidak mempunyai orang yang pemberani ketika berhadapan dengan musuh, dan tidak mempunyai orang kepercayaan ketika tertimpa musibah. Celakalah kalian wahai orang yang menyerupai onta yang kehilangan penggembalanya ! Setiap kali digiring dari satu sisi, ia lari dari sisi yang lain” [Nahjul-Balaaghah, 1/187-189].

Jadi, kalau kita sekarang melihat orang Syi’ah bersedih dan memukul-mukul badan setiap hari ‘Aasyuuraa (10 Muharram, tanggal kematian Al-Husain bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa), barangkali asal muasalnya karena menyesali kelakukan bejat nenek moyang mereka dari penduduk Kuufah yang suka berkhianat. Tapi orang-orang bodohnya kemudian memahami perbuatan pukul-memukul badan itu sebagai bentuk kesedihan atas kematian Al-Husain radliyallaahu ‘anhu. Sungguh ironis !!


Read More...